Website MTsS Nurul Hidayah Lubuk Rumbai Muratara

Follow by Email

Meneladani Aqidah dan akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah suri tauladan kita dalam seluruh unsur agama kita, demikian pula dalam unsur dunia.
Allah berfirman,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْأَاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab : 21)

Hendaknya seorang mukmin berusaha sekuat tenaga menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai suri tauladan dalam hidupnya. Baik dalam Aqidah, Ibadah, akhlak, Muamalah, dan seluruh unsur kehidupannya. Krn beliau adalah langsung di bimbingan oleh Allah dg wahyu Nya. Allah berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰىٓ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحٰى

"dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya, melainkan (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," (QS. An-Najm : Ayat 3-4)

Allah memerintahkan agar kita mentaati Rasul, dan mengancam bagi orang-orang yang tidak taat kepada Rasul,
Allah berfirman,

وَأَطِيعُوا اللّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

"Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul..
(QS. Al-Ma'idah : Ayat 92)

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ 

"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.
(QS. An-Nisa' : 80)

Dan ancaman Allah bagi orang yang tidak mentaati Rasul. Allah berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur : 63)

Ayat di atas (QS. An-Nur : 63), ada 2 ancaman bagi mereka yang menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

1. Fitnah
Para ulama mengatakan yang di maksud dengan fitnah di sini adalah kesyirikan dan kekufuran.

2. Adzaabun Aliim (adzab yang pedih)

Maka bagi orang yang menyelisihi Rasul, silahkan dia pilih antara ke dua di atas.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang terbaik akhlaknya,  Allah berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam : 4)

Aisyah di tanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau menjawab :

كان خلقه القرآن

Akhlak beliau adalah Al-Qur'an

Orang yang mampu menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai suri tauladan, maka merekalah yang memiliki beberapa sifat berikut. Sebagaimana Allah katakan,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْأَاخِرَ  وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab : 21).

Di antara sifatnya adalah :
1. Mengharap kepada Allah
2. Mengharap hari akhir
3. Berdzikir yang banyak

Hendaknya kita mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara kaffah (keseluruhan).
Bahkan Allah mencela orang-orang yahudi mereka beriman sebagian dan kufur sebagian. Allah berfirman,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ  ۚ فَمَا جَزَآءُ مَنْ يَفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۖ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلٰىٓ أَشَدِّ الْعَذَابِ  ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Baqarah : 85)

Orang yang ingin mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia harus memperhatikan hal-hal berikut :

1. Tidak akan kita menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai suri tauladan kecuali dengan mempelajari Sunnah/hadits nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang keutamaan orang yang mempelajari haditsnya.

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا لِمَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا

"Allah akan mengangkat derajatnya seorang hamba yang telah mendengar sabdaku lalu dia menjaganya, lalu menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya. (HR. Ahmad)

Dengan mempelajari hadits, berarti kita sudah membela Sunnah Rasûlullâh Shallallahu alaihi wasallam.

Orang yang mempelajari Sunnah Rasul, maka dia jauh dari kekafiran. Allah berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ ءَايٰتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُۥ  ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلٰى صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran : 101)

2. Siapa yang ingin mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendaknya dia membersihkan hatinya terlebih dahulu

Sesungguhnya tujuan Ibadah adalah untuk membersihkan hati.
Allah berfirman,

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."(QS. Al-Baqarah : 21)

Bertakwa di sini adalah sesuatu yang letaknya di hati. Berarti dia beribadah kepada Allah agar hatinya menjadi bersih.

Allah bersumpah sebanyak 11 kali berturut-turut, berkaitan dengan pentingnya tazkiyatun nufus. Sebagaimana Allah berfirmankan dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syams : 1-7,  kemudian ayat berikutnya Allah mengatakan,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا

"sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)," (QS. Asy-Syams : 9).

Kalau kita menuntut ilmu, kemudian hati kita kotor, maka ilmu tidak akan bermanfaat bagi kita.
Lihatlah firman Allah,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِىٓ ءَاتَيْنٰهُ ءَايٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

"Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat." (QS. Al-A'raf : 175)

Allah melanjutkan,

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ  ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث  ۚ ذّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايٰتِنَا  ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf : 176)

Oleh karena itu, para ulama menasehati jika kita ingin mempelajari ilmu hendaknya kita mempelajari adab terlebih dahulu, adab di sini diantaranya adalah adab yang berkaitan dengan jiwa, yaitu tazkiyatun nufus.

Sehingga para ulama mempelajari adab sampai 20 th,  30 th, dst..

3. Dalam mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita lihat yang terpenting/paling penting, kemudian yang penting, kemudian berikutnya

Begitu juga orang yang ingin belajar ilmu, maka hendaknya dia mempelajari yang terpenting dahulu, kemudian yang penting.

Ilmu yang terpenting adalah ilmu Aqidah/tauhid.

Sehingga dengan kuatnya tauhid, maka hal tersebut akan memberikan kekuatan yang dahsyat dalam hidup kita.
Dan tanpa tauhid, maka amal kita akan sia-sia.


Demikian Ringkasan Kajian, semoga bermanfaat bagi kita semua....

📒 Ringkasan Kajian Ustadz Badrusalam, Lc Hafizhahullah Ta'ala

🕌 Di masjid Agung As-Salam kota Lubuk Linggau

📅 Sabtu, 11 Rabi'ul Akhir 1441 H /  07  Desember 2019 M

🕢 Waktu : Ba'da Isya' s/d selesai

Ditulis Oleh ustadz Abu Musyaffa' Hardadi Al-Atsary

Singkut,  07 Desember 2019

Jangan pernah menghina sunnah

Dalam sebuah video youtube disampaikan oleh ustadz Ariful Bahri,Lc.MA dinukilkan oleh Imam An Nawawi, imam Ibnu Katsir dalam kitab Al Bidayah Al Hinayah dan juga dinukilkan oleh Ibnu Khaliqan. Bahwa sekitar  tahun 1665 Hijriah pernah ada sebuah kejadian yang sangat menggemparkan saat itu, terjadi di kota  Bushroh, Iraq. Apa yang terjadi? Sahabat, kita mengetahui bahwa siwak itu adalah sunnah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, yang cocok disetiap daerah manapun juga. Untuk itu jangan pernah berkata bahwa siwak tidak cocok dengan diri kita. Namun, pada saat itu ada seorang laki-laki yang mengolok-olok siwak, dan menghinanya bahkan siwak tersebut diletakkan diduburnya. Setelah, laki-laki itu meghina siwak kemudian selama 9 bulan ia merasa sakit seperti halnya wanita hamil. Perutnya mengandung layaknya wanita mengandung bayi. Ap yang ia kandung,  anak yang ia kandung dalam perutnya tersebut ialah makhluk  berkaki empat, berkepala seperti ikan, berekor seperti kelinci, dan hewan ini dilihat oleh masyarakat banyak saat itu. Ketika makhluk ini lahir, laki-laki yang merasa sakit (hamil) tersebut berkata hewan inilah yang mencabik-cabik perutnya. Kemudian setelah itu ia meninggal dunia.

Sumber Youtube

Sahabat, apa pelajaran yang dapt kita petik dari kisah ini? Ustadz Hardadi, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Ihya Sunnah Singkut Kabupaten Sarolangun Jambi menguraikan, bahwa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut, yaitu: 
  1. Al-Jazaa' min jinsil 'amal (balasan sesuai dengan jenis perbuatan)  kalau perbuatannya baik, In Syaa Allah di balas kebaikan. Kalau perbuatannya buruk, maka di balas keburukan.
  2. Wajibnya kita memuliakan ajaran agama kita. Apapun itu. Jika di perintahkan kita laksanakan (sesuai kemampuan kita), jika di larang, maka kita tinggalkan. 
  3. Jangan sekali-kali seseorang menghina dan merendahkan syariat islam, baik itu berkaitan dengan kewajiban maupun berkaitan dengan yang Sunnah. (contoh Syariat islam : cadar, celana di atas mata kaki (bagi lk²), siwak, jenggot (bagi lk²), dll. krn akan membahayakan bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
  4. Hukuman itu, terkadang Allah segerakan di dunia. Atau Allah tunda di akhirat nanti. 
  5. Kalau lah kita tidak mampu melaksanakan syariat islam (sprt, cadar (bagi pr), jenggot dan celana di atas mata kaki (bagi lk²). Maka minimal kita jangan mengolok-olok atau menghina orang yang mengerjakannya. 
  6. Mengolok-olok Syariat islam adalah suatu bentuk kekufuran, Allah berfirman,
     وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُون, لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66),
  7. Yang harus kita pahami adalah, setiap perintah Allah, dan juga setiap larangan-Nya, pasti di sana ada hikmahnya. perintah Allah, jika hamba melaksanakannya maka akan bermanfaat bagi hamba tersebut. Demikian juga larangan Allah, jika hamba mengerjakannya pasti bermudharat bagi hamba tersebut. 
Dan.. perintah dan larangan Allah, ada yang telah kita ketahui hikmahnya dan ada juga yang belum kita ketahui hikmahnya. Ketika kita belum mengetahui hikmahnya, maka kita tetap tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Allah..

Wallaahu A'lam.

Sumber : Oleh Abu Musyaffa' Hardadi Al-Atsary

Do’a sederhana yang sudah sepatutnya kita hafal dan amalkan

Doa adalah senjatanya orang mukmin, sehebat apapun kemampuan kita, sekuat apapun kita, sepandai apaun kita, semua tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekuasaan Allah Ta'ala. Untuk itulah kita tak perlu merasa sombong, angkuh, tamak, serakah dan meraka "Aku-lah" yang paling". Ingatlah ada Allah yang maha Kuasa atas segala-galanya. Kita ini hanyalah makluk lemah tak berdaya, tanpa pertolongan Allah, tak akan mungkin kita mampu melakukan segala hal. Sahabat, mengharap pertolongan Allah dalam setiap langkah kecil dan langkah besar kita adalah hal yang pasti dan bahkan wajib kita lakukan, agar kita tak termasuk orang-orang yang menyombongkan diri. Yuk, awali harimu, kerjamu, kegiatanmu dengan membaca do'a. Baik do'a yang bersumber dari nash-nash yang shahih, maupun do'a yang kita ucapkan dari hati kita yang mendalam. berikut ini, do’a sederhana yang sudah sepatutnya kita hafal dan amalkan karena begitu ringkas namun kandungannya amat mendalam.
Baca Juga Penerimaan Peserta Baru Angkatan 3 Tarbiyah Sunnah Learning 

Do’a tersebut adalah:

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

Allahumma ahsin ‘aqibatanaa fil umuuri kullihaa, wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzabil akhiroh. (Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat)[HR. Ahmad 4:181]

Penjelasan:

Maksud do’a “Allahumma ahsin ‘aqibatanaa fil umuuri kullihaa” adalah Ya Allah jadikanlah setiap urusan kami itu baik dan thoyib. Karena setiap amalan tergantung pada akhirnya. Maka jadikanlah setiap amalan kami itu baik, diridhoi oleh-Mu, tetapkanlah kami terus dalam keadaan baik sehingga kami kembali pada-Mu dalam keadaan yang paling baik.

Sedangkan penggalan do’a “ajirnaa min khizyid dunyaa”, selamatkanlah kami dari kebinasaan di dunia yaitu musibah, berbagai tipu daya, kejelekan dan kehinaan di dalamnya.

Penggalan do’a yan terakhir “wa ‘adzabil akhiroh”, selamatkanlah kami dari seluruh siksa di akhirat karena kalimatnya adalah umum (sebab adanya idhofah pada isim jenis), artinya mencakup seluruh siksaan yang ada di akhirat.

Do’a ini mengandung permintaan agar diberi keselamatan, juga rasa aman dari segala sisi. Karena barangsiapa yang terselamatkan dari kehinaan dunia dan siksa di akhirat, maka ia telah mendapatkan kebaikan besar di dua negeri. Jika terselamatkan, berarti ia selamat dari segala kejelekan. Do’a ini benar-benar adalah do’a yang jawami’ul kalim (ringkas, syarat makna, mencakup berbagai hal).

〰〰〰〰〰〰〰
📌 follow this link to joint:
------------------------------------
 🗣 admin grup WA 🚹BIS 🚺B3  
📱 081278045229
〰〰〰〰〰〰〰
Sumber: tadabbur daily
Editor & Repost by: 
Grup Kajian Islam Ilmiah,

*"THE CREW GHUROBA"*
--------------------------------
Media Kajian Ilmu Syar'i

Silahkan disebarluaskan tanpa merubah isinya...semoga menjadi ladang amal jariyah bagi kita, barakallahu fiikum.
-------------------------  
#payoongaji
#dakwahtauhid
#theghuroba
#berbagiilmusyar'i
#berilmubaruberamal

Siapakah orang yang paling kaya dan paling bahagia?

Bismillah, dengan memohon keridaan Allah Ta'ala dan mengharap rahmat, taufik dan hidayahnya, kali ini admin akan berbagi nasehat agama yang sangat bermanfaat bagi kita terutama sahabat BM yang selalu dimuliakan Allah. Bersumber dari tulisan ustadz Hardadi pengajagar Pondok Pesantren Ihya Sunnah Singkut, inilah isi tausyiah Syaikh Jihad Muhammad Ahmad Al-Yamani Hafizhahullah Ta'ala. 
 
Syaikh berkata (setelah menyampaikan muqaddimahnya) :

Saya akan menyampaikan materi yang sangat penting, yang perlu kita perhatikan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Yaitu wasiat yang agung,  yang di riwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, *maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.*” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

*Dalam kalimat :*
*من أصبح منكم*

Ini adalah isyarat bahwa seseorang mukmin tidak boleh di dalam dirinya ada kegelisahan dan sikap pesimis. Dia harus memiliki sikap optimis, dan dia senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Karena Allâh itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam hadits Qudsi, 

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

*Kemudian kata :*

*آمِنًا*

Dengan perasaan aman...

Ini adalah nikmat yang sangat agung setelah nikmat iman dan islam.

Barang siapa yang ingin merasakan nikmatnya keamanan, maka hendaknya dia melihat negara-negara yang di dalamnya banyak peperangan.

Dan rasa aman tidaklah dia dapatkan kecuali dengan menerapkan ayat di bawah ini, 
Allah berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا  ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْئًا  ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُونَ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
(QS. An-Nur : 55)
Baca Juga Ikhlas, Bab Yang Tak Pernah Usai 
Berarti syarat keamanan adalah *Tauhid*

Kemudian Allah melanjutkan,


وَأَقِيمُوا الصَّلٰوةَ وَءَاتُوا الزَّكٰوةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat." (QS. An-Nur : 56)

Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa siapa yang ingin mendapatkan keamanan maka hendaknya dia menegakkan shalat, menunaikan zakat kepada faqir miskin, menjauh perbuatan bid'ah dan maksiat..

Allah berfirman, 


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰىٓ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf : 96)

Ketika penduduk negeri tidak mau beriman kepada Allah, bermaksiat kepada Allah, maka Allah akan timpakan adzab,
Allah berfirman, 

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرٰىٓ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيٰتًا وَهُمْ نَآئِمُونَ

"Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?" (QS. Al-A'raf : 97)


أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرٰىٓ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

"Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?" (QS. Al-A'raf : 98)

Lihatlah bagaimana keadaan negeri yang awalnya Makmur (negeri saba'),  Allah katakan dalam Al-Qur'an, 

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ  ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ  ۖ كُلُوا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُۥ  ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

"Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." (QS. Saba' : 15)


karena mereka bermaksiat kepada Allah, berpaling dari perintah Allah, maka Allah musnahkan mereka tersebut, Allah ambil nikmat-Nya.
Allah berfirman, 

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

"Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr." (QS. Saba' : 16)

ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِمَا كَفَرُوا  ۖ وَهَلْ نُجٰزِىٓ إِلَّا الْكَفُورَ

"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir." (QS. Saba' : 17)

Perhatikan juga firman Allah, 


وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذٰقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat."(QS. An-Nahl : 112)

Oleh karena itu, mereka yang bertauhid kepada Allah, merekalah yang mendapatkan rasa aman.
Allah berfirman, 

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوٓا إِيمٰنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk."
(QS. Al-An'am : 82)

Mereka *Beriman* kepada Allah, kepada Malaikat, kepada kitab², kepada para rasul, kepada hari akhir, dan beriman kepada Qadha dan Qadar.   Sert tidak mencampur adukkan keimanan mereka tersebut dengan kesyirikan, maka Allah akan berikan 2 kenikmatan, yaitu nikmat  *aman* dan nikmati   *hidayah*

*Kemudian kalimat :*

*مُعَافًى فِي جَسَدِهِ* 

Di berikan kesehatan tubuhnya.. 

Ini adalah nikmat, karena ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai dan tertipu,  yaitu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang (kesempatan), sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari)

Nikmat ini harus kita manfaatkan dengan Sebaik-baiknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya). 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda kepada Ibnu Umar, 


كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].”

Dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma pernah mengatakan, *“Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”*(HR. Al-Bukhâri) 


*Kemudian kalimat :*

*قُوْتُ يَوْمِهِ*

Memiliki makanan untuk hari itu.. 

Di sini di katakan, *memiliki makanan untuk hari itu, berarti makanan untuk satu hari*, bukan dua hari, atau beberapa hari.

Kalau kita barangkali memiliki makanan pokok dengan stok untuk satu bulan atau lebih dari itu.. 

Ini menunjukkan bahwa : *dalam perkara dunia hendaknya kita melihat ke bawah*. 

Ada orang yang memiliki mobil mewah, maka janganlah kita melihat ke arahnya, kita lihatlah ke bawah. Masih banyak orang yang tidak memiliki kendaraan, bahkan ada orang yang tidak bisa berjalan, krn tidak memiliki kaki. 

Adapun dalam *perkara akhirat, hendaknya kita melihat ke atas*.  Lihatlah orang-orang yang lebih shaleh darimu, mereka hafal Al-Qur'an, Qiyamul lail, puasa sunnah, dan seterusnya..

Inilah yang di isyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya, 

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ ». قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ « عَلَيْكُمْ »

”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, *”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian.* Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani)

Bahkan orang yang terakhir masuk surga pun dia mendapatkan nikmat yang luar biasa, untuknya surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.

Demikian nasehat singkat dari Syaikh Jihad Muhammad Ahmad Al-Yamani _Hafizhahullah ta'ala_, semoga bermanfaat bagi kita semua....







 Judil asli:

📒 *Ringkasan Kajian Syaikh Jihad Muhammad Ahmad Al-Yamani* _*Hafizhahullah Ta'ala*_

🕌 Di masjid Ma'had Ihya' As-Sunnah - Singkut -  Sarolangun -  Jambi 

📅 Sabtu, 27 Rabi'ul Awwal 1441 H /  23  November 2019 M

🕢 Waktu : Ba'da Maghrib s/d selesai
 
ditulis kembali oleh  Ustadz Abu Musyaffa' Hardadi Al-Atsary
Singkut,  30 November 2019

Penghancur segala kebaikan

Hasad adalah penyakit hati yang berbahaya. Penyakit ini merupakan penyakit yang telah menghancurkan tatanan ummat dan alam semeta ini.

Diawali dari hasadnya Iblis, penghuni alam malaikat yang awal. Tapi ketika disuruh sujud kepada Adam عليه السلام dia menolak disebabkan karena hasadnya. Dia merasa lebih baik dari Adam sehingga muncul sifat irinya.

قَالَ یَـٰۤإِبۡلِیسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِیَدَیَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِینَ. 
قَالَ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِینࣲ.


Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".[Shad : 75 - 76]


Hasad ini pulalah yang merasuki orang-orang Yahudi sehingga mereka menolak islam yang dibawa oleh Rasululloh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana telah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqoroh : 109)
Firrman Allah :

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا.

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia [Yaitu: kenabian, Al Quran, dan kemenangan] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar” (An-Nisaa’ : 54)”

Hasad telah membutakan manusia dari kenyataan dan kebaikan yang dimiliki orang lain.
Qobil membunuh adiknya Habil karena iri.

Saudara-saudaranya Nabi Yusuf عليه السلام tega membuang adiknya ke sumur juga karena iri.
Penyakit ini merupakan penyakit turun menurun dari manusia yang sebelumnya.
Rasululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda,

: دبَّ إليكم داء الأمم قبلكم: الحسد والبَغْضَاء.
رواه التِّرمذي (2510)
Menular kepada kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan benci.
(HR At-Tirmidzy, 2510 dishohihkan Al-Albany)

Dan terus menerus penyakit ini menjadi penghalang utama manusia mendapatkan hidayah. Abu Jahal pimpinan kafir Qurays tidak mau menerima Islam karena hasadnya. Abdulloh bin Ubay bin Salul pemimpin munafikin Madinah selalu merongrong Islam juga karena hasadnya

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi nasihat kepada ummatnya untuk menjauhi penyakit yang berbahaya ini:


لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَقَاطَعُوا وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling membenci, jangan saling memboikot, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Muslim, 2559)

Dan bahayanya hasad yang lebih dahsyat lagi adalah menjadi penghapus segala kebaikan amal.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِيَّاكُمْ وَاْلحَسَدَ، فَإِنَّ اْلحَسَدَ يَأْكُلُ اْلحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ اْلحَطَبَ أَوِ اْلخَشَبَ
.
"Janganlah kamu dengki, karena kedengkian akan memakan kebajikan-kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar atau kayu."(HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Wallahu a'lam.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Inilah bacaan doa Iftitah dan doa ruku' sesuai dalil hadist yang shahih

Assalamualaikum sahabatku sekalian, semoga tetap dalam kesehatan dan petunjuk Allah Ta'ala. Sholawat dan salam selalu tercurah atas junjungan kita yakni seorang manusia akhir zaman yang telah menunjukkan kita jalan kebenaran dan memberitahukan kita jalan kebatilan yang harus kita hindarkan,
yaitu Nabi besar Muhammad  Shollallahu alaihi wassalam.


Sahabat, rata-rata dari seluruh umat islam di Indonesia semua adalah karena garis keturunan, dari kakek ke bapak kemudian turun ke kita sebagai anak-anak mereka. Hanya segelintir orang saja yang sadar akan memberikan pendidikan khusus anak mereka ke bidang agama islam, selebihnya kebanyakan bersekolah umum yang pada kenyataannya ilmu agama hanya sedikit sekali dipelajari. Sudah tentu akibat kenyataan ini banyak kita yang hanya ikut-ikutan dalam beragama. Ketika ada orang sholat kita ikut sholat, ada orang puasa kita ikut puasa, ada orang menyumbang kita turut menyumbang tanpa dasar dan ilmu yang mendukung amal perbuatan kita.

Karena keterbatasan ilmu yang kita miliki, dan kealpaan kita terhadap ilmu tentunya kita harus terus berupaya untuk mempelajari dan mengikuti majelis-majelis ilmu, agar kita tidak menjadi buta dan beramal tanpa ilmu. Sebagai seorang muslim, dalam kegiatan sehari-hari semestinya ada pedoman yang kita pegang agar kita tidak salah jalan dalam beramal. Nah, berikut akan admin salin kembali tulisan dari seorang ustadz (Ustadz Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary, Singkut) mengenai bagaimana seorang muslim harus beramal.  Isi dari tulisan beliau adalah mengenai beberapa hal berikut ini: Bacaan-Bacaan Shalat - Dzikir Setelah Shalat Fardhu - Dzikir Pagi Dan Petang - Kumpulan Do’a Sehari-Hari - Bacaan-Bacaan Ruqyah (Dari Al-Qur’an Dan Hadits) - Kumpulan Hadits-Hadits Populer Dan Pilihan. Tentunya tulisan-tulisan tersebut berdasarkan nash-nash dan buku-buku atau kitab yang telah direkomendasi oleh para ulama kitab. Yang paling utamanya adalah Al-Qur’an  Al-Karim, kemudian kitab 100 Hadits Populer Untuk Hafalan oleh Tim Da’i Zulfa Saudi Arabiyah, Dzikir Pagi Petang Dan Sesudah Shalat Fardhu karya Syaikh Sa’id Bin Ali Bin Wahf AlQahthani, Hisnul Muslim karya Syaikh Sa’id Bin Ali Bin Wahf Al-Qahthani, dan lain-lain.

Baiklah sahabat, admin disini tidak akan menyalin seluruh isi tulisan ustadz tersebut, namun admin akan mengetengahkan beberapa hal yang mungkin kita sendiri masih tidak tahu atau kita tahu tapi kurang faham. Seperti doa Iftitah dan doa ruku' berikut ini:

1. Do’a Istiftah / Iftitah





“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

Atau :



“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, dll)

Atau : 



“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99)


 2. Bacaan Rukuk

“Maha suci Allah yang Maha Agung” (HR. Abu Daud 874, An Nasa’i 1144)


Atau :  

 “Maha suci Allah yang Maha Agung dan segala puji bagiMu” (HR. Abu Daud 870, Al Bazzar 7/322).


 Atau :   
“Maha Suci Allah, Rabb kami, segala puji bagiMu. Ya Allah ampuni dosaku” (HR. Al Bukhari 817).


Atau :

“Maha Suci Allah Rabb para Malaikat dan Ar Ruuh (Jibril)” (HR. Muslim 487).

Untuk bacaan shalat sengaja dituliskan yang bervariasi (bacaannya bermacam-macam) agar pembaca bisa memilih yang mana yang mau di hafal, tentunya semuanya berdasarkan dalil.

Sumber : Panduan Seorang Muslim, Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary

Tolong Bawa Aku ke Surga

*_::: TOLONG BAWA AKU KE SURGA... !

Oleh :
Ustadz Abdullah Zaen Hafidzahullah

Ketika mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tanganku, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu Dalam airmata berlinang dan ucapan yang terbata-bata dia berkata, "Bila kamu tidak melihat aku di surga, tolong tanya kepada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu..."

Dia langsung terisak menangis, lalu aku memeluknya dan meletakkan mukaku di bahunya. Aku pun berbisik,  "Insyaa Allah, insyaa Allah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak melihatku di surga..."
Kami pun menangis bersama, entah berapa lama...

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau...

Sebenarnya pesan itu pernah disampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata pada sahabatnya sambil menangis:


"Jika kamu tidak menemui aku di surga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku: 'Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di surga."

Ibnu Jauzi berpesan begitu bersandar pada sebuah hadits:

"Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah: 'Ya Rabb! kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami...'"Maka Allah berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah."(Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhd)

Wahai sahabat²ku...

Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya ikatan di dunia, tetapi juga hingga akhirat.

Carilah sahabat-sahabat yang senantiasa berbuat amal sholeh, yang shalat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Teman yang dicari karena urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola, teman memancing, teman bershopping, teman FB untuk bercerita hal politik, teman whatsapp untuk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis kematian dan masing² hanya akan membawa diri sendiri.

Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke surga...

Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita...

Ayo... berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia, carilah teman yang membawa kita bersama ke surga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk surganya Allah.

Perbanyak lah ikhtiar, semoga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu surga...

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

"Perbanyak lah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat.”

Pejamkan mata, berfikir lah...
Siapa kiranya di antara sahabat² kita yang akan mencari dan mengajak kita ber-sama² ke surga??

Jika tidak, mulai lah hari ini mencari teman ke surga sebagai suatu misi pribadi.

Baarakallahu fiikum.

Banyak yang tidak tahu hukuman kafarah jika melakukan hal ini disiang hari di bulan Ramadhan

Assalamualaikum sahabat, bila kita perhatikan saat ini ilmu tentang agama sangat sedikit sekali di fahami oleh kaum muslim khususnya kawula muda. Apalagi di sekolahan Umum jumlah jam pelajaran agama islam itu sangatlah terbatas. 

Bagi mereka yang baru saja tamat Sekolah Menengah Atas, banyak juga yang telah melangkah ke pernikahan. Bahkan sebelum memasuki awal Ramadhan kemarin, banyak juga pernikahan. Nah, sahabat kali ini penulis mengajak untuk menyimak bahwa ada hal yang sangat penting yang ingin penulis ketengahkan. Menikah adalah hal yang sangat mulia bagi mereka yang sudah siap untuk menikah, sudah tentu keinginan syahwat akan terkendali dan menjadi halal jika dilakukan oleh kawula yang menikah, di saat kapanpun kecuali bila sang istri sedang haid dan nifas. Kendatipun hubungan suami istri (berjima') itu halal tetapi haram dilakukan di siang hari bulan Ramadhan dan membatalkan puasa. Dalam sebuah firman Allah, yakni Surah A-Baqarah ayat 187 yang makna terjemahannya sebagai berikut:

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma‟af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."(QS. Al-Baqarah: 187).  

Berjima‟ dengan pasangan di siang hari bulan Ramadhan membatalkan puasa, maka mereka wajib menunaikan kafaroh. Coba perhatikan hadist berikut ini!

Dalilnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, 

Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu „alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu „alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu „alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111) 

Nah, perhatikan urutan hukuman (kafarah) bagi pelanggar yang dengan sengaja melakukan hal di atas ketika sedang berpuasa di bulan yang mulia ini. Pertama, jika ia melakukan larangan tersebut adalah memerdekakan budak. Jika tak mampu memerdekakan budak maka harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut tanpa terputus keculai jika ada uzur seperti sakit dan sebaginya. Selanjutnya bila berpuasa 2 bulan berturut-turut tak mampu juga, maka harus memberi makan kepada 60 orang miskin. 

Seperti kita ketahui yang di sebutkan di dalam hadist di atas, bahwa orang yang melakukan pelanggaran adalah seorang yang amat fakir dan miskin sehingga tak ada orang lain yang lebih miskin darinya, maka oleh Rasulullah  shallallahu „alaihi wa sallam diberi keringan dengan memberikan kurma yang dihadiahi oleh seseorang. 

Nah, sahabat kita yang hidup normal, memiliki fisik yang kuat, atau punya harta yang banyak, tentunya harus memahami hadist ini. walaupun sebenarnya kita mampu untuk menjalani kafarah tersebut. Namun, pada hakekatnya kafarah tersebut merupakan bentuk ketegasan bahwa hal demikian sangat tidak diperbolehkan dilakukan di siang Ramadhan bagi kita yang berpuasa. 


Sumber : Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary

Hukum I'tikaf Bagi Wanita

Assalamualaikum sahabat, berikut adalah sebuah pertanyaan mengenai i'tikaf bagi wanita.
Pertanyaan❓

Assalamu'alaikum Ustadz.
Ada bertanya ke sya..
Adakah bagi i'tikaf seorang perempuan?? Dan bagaimana tata cara i'tikafnya, apakah di rumah atau di masjid.?
Hukum nya sendiri bagaimana??
Mohon penjelasannya..


Jawaban ✅

وعليكم السلام ورحمة الله و بركا ته

Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat:

[1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-15)

I’tikaf sunnahnya di Masjid dan Boleh di Masjid Mana saja

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah [2] : 187)

Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.

Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan,”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)


📝 Dijawab Oleh :
Abu Syamil Humaidy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ, Admin Grup MDS - MF - MNM
follow this link to joint:
admin grup WA 🚹BIS 🚺B3 
📱 081278045229
〰〰〰〰〰〰〰
✒ Sumber:
Editor & Repost by:
Grup Kajian Islam Ilmiah,

"THE CREW GHUROBA"
--------------------------------
Media Kajian Ilmu Syar'i

Keutamaan Puasa Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan Bag.3)

Banyak sekali keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan, berikut ini adalah keutamaan-keutamaan berpuasa di Bulan yang benuh kemuliaan ini:

1. Puasa adalah Jalan Meraih Taqwa Allah Ta‟ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). 

2. Puasa adalah Perisai
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,  “Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami‟) 

3. Orang Yang Berpuasa Akan Mendapatkan Pahala Yang Tak Terhingga
orang yang berpuasa dengan sebenarnya, maka dia telah menggabungkan tiga jenis kesabaran, yaitu :
a. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah 
b. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan 
c. Sabar dalam menerima taqdir Allah
    Sedangakan sabar pahalanya tanpa batas, Sebagaimana firman Allah  ,

   “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa   batas “(QS. Az-Zumar : 10) 

4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu „alaihi wa sallam bersabda,   “Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: 
(1) kebahagiaan ketika berbuka, dan 
(2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim no. 1151) 

5. Puasa adalah Penghalang dari Siksa Neraka Dari Jabir bin „Abdillah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,   ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR. Ahmad 3: 396. Syaikh Syu‟aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari banyak jalan)

Dari Abu Sa‟id radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR. Bukhari no. 2840) 

6.  Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
 ُ"Allah berfirman,‟Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,‟Saya sedang berpuasa‟. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya‟. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Puasa akan Memberikan Syafa’at bagi Orang yang Menjalankannya Dari „Abdullah bin „Amr radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,   ”Puasa dan Al Qur‟an itu akan memberikan syafa‟at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ‟Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat karenanya 

perkenankan aku untuk memberikan syafa‟at kepadanya‟. Dan Al Qur‟an pula berkata, ‟Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa‟at kepadanya.‟ Beliau bersabda, ‟Maka syafa‟at keduanya diperkenankan.‟“(HR. Ahmad 2: 174. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 984)

8. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

9. Puasa merupakan sebagai Penahan Syahwat Dari Ibnu Mas‟ud radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”( HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

10. Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa Dari Sahl bin Sa‟ad, dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“ ( HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152) 

Sumber : Panduan Puasa Ramadhan oleh Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary

Hikmah dan Keutamaan puasa dan bulan Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan bag. 2)

HIKMAH DI BALIK IBADAH PUASA 

Diantara Hikmah Ibadah Puasa adalah : 
  1. Menggapai derajat Taqwa Melatih jiwa untuk taat kepada Allah 
  2. Menumbuhkan sifat sabar 
  3. Mendidik manusia dalam mengendalikan keinginan (meredam syahwat) 
  4. Mensyukuri nikmat Allah 
  5. Menjernihkan hati dan pikiran Solidaritas antar sesama ( menimbulkan rasa iba dan sayang kepada kaum miskin) 
  6. Puasa membersihkan badan dari elemen-elemen yang tidak baik dan membuat badan menjadi sehat 

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN 
  1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’anBulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur‟an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta‟ala berfirman,  “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) 
  2. Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba
          Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” ( HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079)

     3. Adanya Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan (Lailatul Qadr)

Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah saat diturunkannya Al Qur‟anul Karim.
Allah Ta‟ala berfirman,

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3). 

     4. Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a 

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
  ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do‟a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar, dari Jabir bin „Abdillah. Al Haitsami dalam Majma‟ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami‟ul Ahadits, 9/224).
 
     5. Bulan Yang Penuh Dengan Ampunan 

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan di ampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Sumber : Panduan Puasa Ramadhan oleh Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary
 

Defenisi Puasa Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan Bag. I)

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم). Secara bahasa Ash Shiyam artinya adalah al imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Sedangkan secara istilah, ash shiyaam artinya: beribadah kepada Allah Ta‟ala dengan menahan diri dari makan, minum dan pembatal puasa lainnya, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.



MENGAPA DINAMAKAN BULAN RAMADHAN ?
  1. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan, Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma‟i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr. 
  2. Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad alFarahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H). 
  3. Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [ رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H). 
Oleh : Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary
Sumber : Panduan Puasa Ramadhan

Sejelek-jeleknya manusia

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,

إِِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

"Sesungguhnya diantara sejelek-jeleknya manusia adalah orang-orang yang merasakan dahsyatnya hari kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan  sebagai tempat ibadah." [HR. Ahmad dari Ibnu Mas'ud radhiyallaahu'anhu, Tahdzirus Sajid: 12]

*PENJELASAN:*
1. Orang yang masih hidup ketika terjadi hari kiamat adalah orang musyrik dan kafir, yaitu semua orang yang menyembah kepada selain Allah 'azza wa jalla atau tidak mengikuti agama Allah 'azza wa jalla.

2. Orang-orang kafir adalah seburuk-buruk makhluk, sebagaimana juga firman Allah ta'ala, "...mereka adalah seburuk-buruk makhluk." [Al-Bayyinah: 6]

3. Termasuk seburuk-buruk makhluk adalah orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena dua sebab:

Pertama: Mereka melakukan dosa terbesar, yaitu dosa syirik menyembah penghuni kubur dengan cara berdoa kepadanya, atau menyembelih untuknya, atau bertawakkal kepadanya, atau mencari berkah darinya dan kuburannya, dan lain-lain.

Kedua: Mereka masih menyembah Allah tapi menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, mereka termasuk seburuk-buruk makhluk, karena perbuatan mereka mengantarkan kepada penyembahan terhadap penghuni kuburan tersebut dan menyesatkan manusia.

4. Makna menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah mencakup tiga makna:
Pertama: Membangun masjid di kuburan.
Kedua: Mengubur di masjid.
Ketiga: Beribadah di kuburan walau tanpa ada bangunan masjid.

5. Hadits yang mulia ini juga mengandung larangan berbuat syirik dan kufur, dan larangan semua perbuatan dan ucapan yang mengantarkan kepadanya.


#Video_Pendek On YouTube: https://youtu.be/rLiwoQg7VFA

Dana Hasil Riba mengapa dikumpulkan dan dimanfaatkan?

Yang pertama harus diketahui, bahwa para ulama sepakat bahwa RIBA merupakan dosa besar,_*  karena adanya ancaman khusus padanya, bahkan Allah sangat keras mengecam dosa riba ini dalam firman-Nya: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

_“Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah, dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian tidak melakukan (hal itu), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”._ *(Albaqoroh: 278-279).*

```Jika demikian, mengapa masih ingin mengumpulkan harta riba?```

Sungguh tidak ada maksud dari kami untuk menganjurkan manusia agar menghasilkan harta riba sebanyak-banyaknya. Bahkan kami ingin tidak ada harta riba sedikit pun di dunia ini, *_karena harta riba adalah harta haram._*

Yang kami lakukan dalam program pengumpulan harta riba hanyalah usaha kami untuk memberikan solusi bagi mereka yang memiliki harta riba, *_mau dikemanakan harta tersebut, mengingat harta riba seperti itu dianggap tidak ada pemiliknya secara syariat, karena larangan riba itu berhubungan dengan hak Allah._*

Apabila harta tersebut dibiarkan, tentu mudharatnya lebih besar, karena kita diperintah untuk membebaskan diri dari harta yang diharamkan belum lagi sangat dimungkinkan pihak bank akan memanfaatkannya untuk kegiatan mereka._

Apabila harta dibuang atau dibakar, tentu mudharatnya juga lebih besar, karena akan banyak uang negara yang hilang di pasaran, dan itu akan mengganggu kebutuhan orang banyak._

Apabila diberikan kepada orang atau lembaga yang tidak baik, juga mudharatnya akan lebih besar, karena itu hanya akan menguatkan posisi mereka._

Sehingga tidak ada pilihan lain, kecuali mengumpulkannya untuk tujuan kemaslahatan kaum muslimin secara umum, seperti pembangunan jalan, penerangan jalan, pembangunan taman, penghijauan, pembuatan wc umum, pengadaaan lapangan, dan yang semisalnya.

```Adapun hal-hal yang berhubungan dengan ibadah, seperti: masjid, mushaf, kegiatan dakwah, dan yang semisalnya, maka sudah sepantasnya dijauhkan dari harta riba ini… ```
karena itu merupakan hal-hal yang Allah sucikan, maka sudah selayaknya kita juga mensucikannya dari harta yang kotor tersebut, wallohu a’lam. 

Mungkin masih ada yang mengganjal dalam hal ini, bagaimana harta riba yang diharamkan boleh kita pakai dan kita manfaatkan?

Ini telah dijawab oleh sebagian ulama, dengan mengatakan, bahwa keburukan harta riba BUKANLAH pada dzatnya, namun pada cara mendapatkannya, sehingga tidak dibenarkan untuk membuangnya atau merusaknya._

Hal ini sebagaimana harta rampasan perang, dibolehkan dalam islam untuk memanfaatkannya, padahal sumber harta orang kafir bisa jadi dari penjualan babi, minuman keras, judi, riba, dan sumber-sumber yang diharamkan oleh Islam, namun begitu setelah menjadi harta rampasan perang boleh digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Begitu pula halnya dalam masalah upah dari perzinaan, atau perdukunan, atau pekerjaan haram lainnya.. harta tersebut tidak boleh dirusak atau dibuang, karena yang buruk bukan dzat hartanya, namun cara mendapatkannya.. Maka solusi yang tepat dalam harta yang demikian adalah dengan membebaskan diri dari harta tersebut, dan menyalurkannya untuk kemaslahatan manusia secara umum, wallohu a’lam.

Untuk menguatkan kesimpulan di atas, maka di sini kami bawakan beberapa fatwa dari para ulama ahlussunnah yang berkaitan dengan masalah ini:
Fatwa Lajnah Daimah (komite tetap untuk fatwa) Saudi Arabia: 

“Keuntungan (bunga) yang kamu ambil sebelum tahu haramnya bunga tersebut; kami berharap Allah mengampunimu dalam hal itu. Adapun bunga yang kamu ambil setelah tahu keharamannya, maka yang diwajibkan kepadamu adalah membebaskan dirimu darinya, dan menginfakkannya dalam jalan-jalan kebaikan: seperti diberikan kepada orang-orang fakir, para mujahidin fi sabilillah. Dan juga harus bertaubat kepada Allah dari tindakan melakukan riba setelah tahu (keharamannya)”._
*[Kitab: Fatawa Lajnah Da’imah 1, jilid 13/352].*

Fatwa Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:
“Adapun keuntungan (bunga) yang diberikan bank kepadamu, maka jangan kamu kembalikan kepada bank, dan juga jangan kamu makan, tapi gunakanlah untuk jalan-jalan kebaikan, seperti memberikannya kapada para fakir miskin, memperbaiki toilet, dan membantu orang-orang yang punya tanggungan dan tidak tidak mampu membayar hutangnya”._ *[Kitab: Fatawa Islamiyah 2/407].*

Fatwa Syaikh Shalih Al-Munajjid -hafizhahullah-:
_“Menempatkan uang di bank dengan imbalan keuntungan (bunga) adalah riba, dan itu termasuk dosa besar… Apabila seorang muslim terpaksa menempatkan uangnya di bank, karena dia tidak menemukan sarana untuk menyimpan uangnya kecuali menempatkannya di bank, maka hal tersebut-insyaAllah- tidakmengapadenganduasyarat:_

1. Dia tidak mengambil imbalan bunga yang diberikan.
2. Transaksi Bank tersebut tidak seratus persen riba, tapi ada sebagian kegiatan (transaksi) nya yang mubah (dibolehkan) untuk mengembangkan uangnya.

Dan tidak boleh mengambil manfaat dari bunga riba yang diberikan bank kepada para nasabah, tapi mereka wajib membebaskan dirinya dari bunga riba itu (dengan menyalurkannya) pada jalan-jalan kebaikan yang bermacam-macam”.  Demikian penjelasan ini kami buat, semoga bermanfaat._

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, MA
Dewan Pembina Risalah Islam.or.id

Oleh: Mutiara Risalah Islam
>>>>>>><<<<<<<

Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ust Dr.Musyaffa’ad Dariny, Lc.,M.A...??
Anda akan mendapatkan Nasehat, Artikel,Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Risalah Islam MRI

Daftar ke Wa : 089628222285 atau klik   http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI
Back To Top