Bookmay Madrasah. Com

Website MTsS Nurul Hidayah Lubuk Rumbai Muratara

Follow by Email

Banyak yang tidak tahu hukuman kafarah jika melakukan hal ini disiang hari di bulan Ramadhan

Assalamualaikum sahabat, bila kita perhatikan saat ini ilmu tentang agama sangat sedikit sekali di fahami oleh kaum muslim khususnya kawula muda. Apalagi di sekolahan Umum jumlah jam pelajaran agama islam itu sangatlah terbatas. 

Bagi mereka yang baru saja tamat Sekolah Menengah Atas, banyak juga yang telah melangkah ke pernikahan. Bahkan sebelum memasuki awal Ramadhan kemarin, banyak juga pernikahan. Nah, sahabat kali ini penulis mengajak untuk menyimak bahwa ada hal yang sangat penting yang ingin penulis ketengahkan. Menikah adalah hal yang sangat mulia bagi mereka yang sudah siap untuk menikah, sudah tentu keinginan syahwat akan terkendali dan menjadi halal jika dilakukan oleh kawula yang menikah, di saat kapanpun kecuali bila sang istri sedang haid dan nifas. Kendatipun hubungan suami istri (berjima') itu halal tetapi haram dilakukan di siang hari bulan Ramadhan dan membatalkan puasa. Dalam sebuah firman Allah, yakni Surah A-Baqarah ayat 187 yang makna terjemahannya sebagai berikut:

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma‟af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."(QS. Al-Baqarah: 187).  

Berjima‟ dengan pasangan di siang hari bulan Ramadhan membatalkan puasa, maka mereka wajib menunaikan kafaroh. Coba perhatikan hadist berikut ini!

Dalilnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, 

Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu „alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu „alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu „alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu „alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111) 

Nah, perhatikan urutan hukuman (kafarah) bagi pelanggar yang dengan sengaja melakukan hal di atas ketika sedang berpuasa di bulan yang mulia ini. Pertama, jika ia melakukan larangan tersebut adalah memerdekakan budak. Jika tak mampu memerdekakan budak maka harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut tanpa terputus keculai jika ada uzur seperti sakit dan sebaginya. Selanjutnya bila berpuasa 2 bulan berturut-turut tak mampu juga, maka harus memberi makan kepada 60 orang miskin. 

Seperti kita ketahui yang di sebutkan di dalam hadist di atas, bahwa orang yang melakukan pelanggaran adalah seorang yang amat fakir dan miskin sehingga tak ada orang lain yang lebih miskin darinya, maka oleh Rasulullah  shallallahu „alaihi wa sallam diberi keringan dengan memberikan kurma yang dihadiahi oleh seseorang. 

Nah, sahabat kita yang hidup normal, memiliki fisik yang kuat, atau punya harta yang banyak, tentunya harus memahami hadist ini. walaupun sebenarnya kita mampu untuk menjalani kafarah tersebut. Namun, pada hakekatnya kafarah tersebut merupakan bentuk ketegasan bahwa hal demikian sangat tidak diperbolehkan dilakukan di siang Ramadhan bagi kita yang berpuasa. 


Sumber : Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary

Hukum I'tikaf Bagi Wanita

Assalamualaikum sahabat, berikut adalah sebuah pertanyaan mengenai i'tikaf bagi wanita.
Pertanyaan❓

Assalamu'alaikum Ustadz.
Ada bertanya ke sya..
Adakah bagi i'tikaf seorang perempuan?? Dan bagaimana tata cara i'tikafnya, apakah di rumah atau di masjid.?
Hukum nya sendiri bagaimana??
Mohon penjelasannya..


Jawaban ✅

وعليكم السلام ورحمة الله و بركا ته

Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat:

[1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-15)

I’tikaf sunnahnya di Masjid dan Boleh di Masjid Mana saja

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah [2] : 187)

Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.
Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.

Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan,”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)


📝 Dijawab Oleh :
Abu Syamil Humaidy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ, Admin Grup MDS - MF - MNM
follow this link to joint:
admin grup WA 🚹BIS 🚺B3 
📱 081278045229
〰〰〰〰〰〰〰
✒ Sumber:
Editor & Repost by:
Grup Kajian Islam Ilmiah,

"THE CREW GHUROBA"
--------------------------------
Media Kajian Ilmu Syar'i

Keutamaan Puasa Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan Bag.3)

Banyak sekali keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan, berikut ini adalah keutamaan-keutamaan berpuasa di Bulan yang benuh kemuliaan ini:

1. Puasa adalah Jalan Meraih Taqwa Allah Ta‟ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). 

2. Puasa adalah Perisai
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,  “Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami‟) 

3. Orang Yang Berpuasa Akan Mendapatkan Pahala Yang Tak Terhingga
orang yang berpuasa dengan sebenarnya, maka dia telah menggabungkan tiga jenis kesabaran, yaitu :
a. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah 
b. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan 
c. Sabar dalam menerima taqdir Allah
    Sedangakan sabar pahalanya tanpa batas, Sebagaimana firman Allah  ,

   “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa   batas “(QS. Az-Zumar : 10) 

4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu „alaihi wa sallam bersabda,   “Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: 
(1) kebahagiaan ketika berbuka, dan 
(2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim no. 1151) 

5. Puasa adalah Penghalang dari Siksa Neraka Dari Jabir bin „Abdillah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,   ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR. Ahmad 3: 396. Syaikh Syu‟aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dilihat dari banyak jalan)

Dari Abu Sa‟id radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR. Bukhari no. 2840) 

6.  Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
 ُ"Allah berfirman,‟Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,‟Saya sedang berpuasa‟. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya‟. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Puasa akan Memberikan Syafa’at bagi Orang yang Menjalankannya Dari „Abdullah bin „Amr radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,   ”Puasa dan Al Qur‟an itu akan memberikan syafa‟at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ‟Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat karenanya 

perkenankan aku untuk memberikan syafa‟at kepadanya‟. Dan Al Qur‟an pula berkata, ‟Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa‟at kepadanya.‟ Beliau bersabda, ‟Maka syafa‟at keduanya diperkenankan.‟“(HR. Ahmad 2: 174. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 984)

8. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

9. Puasa merupakan sebagai Penahan Syahwat Dari Ibnu Mas‟ud radhiyallahu „anhu, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”( HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

10. Pintu Surga Ar Rayyan bagi Orang yang Berpuasa Dari Sahl bin Sa‟ad, dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“ ( HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152) 

Sumber : Panduan Puasa Ramadhan oleh Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary

Hikmah dan Keutamaan puasa dan bulan Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan bag. 2)

HIKMAH DI BALIK IBADAH PUASA 

Diantara Hikmah Ibadah Puasa adalah : 
  1. Menggapai derajat Taqwa Melatih jiwa untuk taat kepada Allah 
  2. Menumbuhkan sifat sabar 
  3. Mendidik manusia dalam mengendalikan keinginan (meredam syahwat) 
  4. Mensyukuri nikmat Allah 
  5. Menjernihkan hati dan pikiran Solidaritas antar sesama ( menimbulkan rasa iba dan sayang kepada kaum miskin) 
  6. Puasa membersihkan badan dari elemen-elemen yang tidak baik dan membuat badan menjadi sehat 

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN 
  1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’anBulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur‟an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta‟ala berfirman,  “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185) 
  2. Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba
          Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” ( HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079)

     3. Adanya Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan (Lailatul Qadr)

Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah saat diturunkannya Al Qur‟anul Karim.
Allah Ta‟ala berfirman,

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3). 

     4. Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a 

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
  ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do‟a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar, dari Jabir bin „Abdillah. Al Haitsami dalam Majma‟ Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami‟ul Ahadits, 9/224).
 
     5. Bulan Yang Penuh Dengan Ampunan 

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan di ampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Sumber : Panduan Puasa Ramadhan oleh Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary
 

Defenisi Puasa Ramadhan (Panduan Puasa Ramadhan Bag. I)

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم). Secara bahasa Ash Shiyam artinya adalah al imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Sedangkan secara istilah, ash shiyaam artinya: beribadah kepada Allah Ta‟ala dengan menahan diri dari makan, minum dan pembatal puasa lainnya, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.



MENGAPA DINAMAKAN BULAN RAMADHAN ?
  1. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan beberapa pendapat ahli bahasa, terkait asal penamaan ramadhan, Pertama, diambil dari kata ar-Ramd [arab: الرمض] yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik. Pendapat ini disampaikan oleh al-Ashma‟i – ulama ahli bahasa dan syair arab – (w. 216 H), dari Abu Amr. 
  2. Kedua, diambil dari kata ar-Ramidh [arab: الرميض], yang artinya awan atau hujan yang turun di akhir musim panas, memasuki musim gugur. Hujan ini disebut ar-Ramidh karena melunturkan  pengaruh panasnya matahari. Sehingga bulan ini disebut Ramadhan, karena membersihakn badan dari berbagai dosa. Ini merupakan pendapat al-Kholil bin Ahmad alFarahidi – ulama tabiin ahli bahasa, peletak ilmu arudh – (w. 170 H). 
  3. Ketiga, nama ini diambil dari pernyataan orang arab, [ رمضت النصل] yang artinya mengasah tombak dengan dua batu sehingga menjadi tajam. Bulan ini dinamakan ramadhan, karena masyarakat arab di masa silam mengasah senjata mereka di bulan ini, sebagai persiapan perang di bulan syawal, sebelum masuknya bulan haram. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Azhari – ulama ahli bahasa, penulis Tahdzib al-Lughah – (w. 370 H). 
Oleh : Abu Musyaffa’ Hardadi Al-Atsary
Sumber : Panduan Puasa Ramadhan

Surat Edaran Kementerian PAN-RB tentang waktu kerja pegawai di bulan Ramadhan 1440 Hijriah

Assalamualaikum sobat, tidak lama lagi kita memasuki bulan Ramadhan 1440 Hijriah, sudah tentu waktu jam kerja dinas kita biasanya akan dikurangi. Nah, berikut surat edaran mengenai peraturan waktu jam kerja selama bulan Ramadhan nanti.

Berikut isi surat edaran tersebut:


Cara menambah siswa di emis 2019 melalui fitur cari siswa

Assalamualaikum operator madrasah, kali ini admin ingin berbagi cara menambahkan siswa ke dalam emis melalui menu cari siswa. Bagi siswa yang merupakan siswa pindahan RA, MI, MTs dan MA, dapat dilakukan dengan menggunakan fitur menu cari siswa yang ada di emis.

Adapun caranya, perhatikan gambar berikut ini:


Selanjutnya akan tampil laman seperti berikut ini,


Gunakan Nama siswa, NIK, NISN ataupun NISM siswa tersebut untuk melacak atau mencari nama siswa yang akan ditarik ke emis lembaga kita.

Jika ketemu hasilnya akan seperti ini,


Selanjutnya klik menu aksi yang berada diujung data nama siswa, dan pilih simpan.



Demikian cara menambah siswa di emis melalui fitur cari siswa
Back To Top