mediakomen

Kisah-Kisah singkat Menyentuh dari Zaman Nabi ﷺ: Tangis, Kasih Sayang, dan Keteladanan Abadi"

Assalmualaikum sahabat book my madrasah, berikut adalah beberapa kisah menyentuh di zaman Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan secara shahih dan penuh pelajaran menyentuh hati:


 

1. Tangisan Rasulullah ﷺ atas Wafatnya Seorang Anak Kecil dari Seorang Budak

Hadis Shahih: HR. Muslim no. 976

Nabi ﷺ pernah mengunjungi rumah seorang sahabat yang memiliki seorang anak kecil. Anak itu sering dipanggil “anak burung pipit” karena suka bermain burung. Suatu hari, anak itu meninggal. Rasulullah ﷺ mendatangi rumahnya, lalu duduk sambil meneteskan air mata.

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Anda menangis?”
Beliau menjawab:

“Ini adalah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya. Sesungguhnya Allah merahmati hamba-hamba-Nya yang penuh kasih sayang.”

Pelajaran: Islam tidak melarang menangis karena duka, justru itu adalah tanda kasih sayang.


2. Tangisan Bilal bin Rabah Saat Adzan Setelah Wafatnya Nabi ﷺ

Diriwayatkan oleh para perawi sirah dan atsar yang hasan

Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Bilal tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Saat suatu ketika diminta Umar bin Khattab untuk adzan di Madinah, Bilal melakukannya. Namun, saat sampai pada lafaz:

"Asyhadu anna Muhammadur Rasulullah…"

Ia menangis tersedu, dan penduduk Madinah pun ikut menangis, mengenang Rasulullah ﷺ.


3. Anjing yang Diperhatikan oleh Seorang Pelacur – Hadis Shahih Bukhari

Hadis Shahih: HR. Al-Bukhari no. 3467 dan Muslim no. 2245

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seorang pelacur dari kalangan Bani Israil diampuni dosanya karena memberi air kepada anjing yang kehausan. Ia melihat seekor anjing menjilati tanah karena sangat haus. Lalu ia melepas sepatunya, mengambil air dari sumur, dan memberinya minum."

Allah mengampuninya karena belas kasih itu.

Pelajaran: Rahmat dan kebaikan, sekecil apapun, bisa menjadi sebab ampunan dari Allah.


4. Ummu Sulaym Menenangkan Suaminya Setelah Anaknya Wafat

Hadis Shahih: HR. Bukhari no. 5153, Muslim no. 2144

Suatu malam, anak dari Ummu Sulaym dan Abu Talhah meninggal dunia. Ummu Sulaym dengan luar biasa sabar dan tenang, bahkan menyambut suaminya dengan pelayanan terbaik sebelum mengabarkan wafatnya anak mereka.

Ketika pagi hari, Abu Talhah diberi tahu. Ia marah karena tak langsung diberi tahu. Namun setelah mengadu kepada Rasulullah ﷺ, beliau mendoakan mereka dan tak lama kemudian mereka dikaruniai anak yang diberkahi dan menjadi orang shaleh.


5. Seorang Wanita Hitam yang Menyapu Masjid

Hadis Shahih: HR. Bukhari no. 458, Muslim no. 956

Ada seorang wanita kulit hitam yang biasa menyapu masjid Nabawi. Ia wafat di malam hari dan para sahabat menguburkannya tanpa memberi tahu Rasulullah ﷺ.

Ketika beliau mengetahui, beliau berkata:

“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”
Lalu beliau pergi ke kuburnya dan shalat jenazah di atas kuburannya.

Pelajaran: Rasulullah ﷺ menghargai siapapun, bahkan yang dianggap kecil oleh masyarakat. Beliau mengajarkan kehormatan bagi semua umat.

Salah Kaprah Seputar Puasa Ramadhan

 Bismillah, Ashshalatu wassalamu 'ala Rasulillah. Sehat selalu wahai sahabat pembaca yang budiman, semoga pertolongan Allah senantiasa bersama kalian. Amin.

 


Banyak kita perhatikan di masyarakat yang salah kaprah dalam memaknai ibadah puasa ramadhan. Salah kaprah dalam menjalani ibadah puasa ramadhan. Seperti hal berikut ini:

 

1. Jika haid, maka tidak perlu puasa dan tidak perlu meng-qadha

Jika haid, maka tidak perlu puasa dan tidak perlu meng-qadha Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. 'Aisyah radhiallahu'anha pernah ditanya:

“Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wasallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat”.

 Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan. Dan tidak ada ikhtilaf di antara ulama dalam masalah ini. An Nawawirahimahullah mengatakan: “Ulama kaum Muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib untuk shalat dan puasa ketika masa haidnya. Dan mereka sepakat bahwa wanita haid tidak wajib meng-qadha shalat dan mereka juga sepakat bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya”

 

2. Jika haid atau meninggalkan puasa, maka tidak perlu meng qadha, cukup bayar fidyah.

 Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat dari Aisyah radhiallahu'anha di atas, wanita haid itu meng-qadha puasanya. Dan membayar fidyah itu hanya berlaku pada beberapa golongan berikut ini:

  1. Orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi untuk puasa 
  2. Orang yang sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya 
  3. Wanita hamil dan menyusui, menurut sebagian ulama 

Berdasarkan firman Allah ta'ala Surah Al Baqarah ayat 184:

"Dan bagi orang yang tidak mampu berpuasa, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin

 

Adapun yang wajib meng-qadha dan juga wajib membayar fidyah, mereka adalah wanita hamil dan menyusui jika khawatir kepada anak mereka. Maka mereka boleh meninggalkan puasa dan meng-qadha puasanya. Dan mereka berdua wajib meng-qadha sekaligus juga membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, Mujahid dan juga merupakan pendapat Asy Syafi'irahimahullah. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui tidak perlu membayar fidyah (hanya qadha saja). Ini adalah pendapat Al Hasan Al Bashri, Atha, Ibrahim An Nakha'i, Az Zuhri, Al Auza'i, Ats Tsauri dan merupakan pendapat Hanafiyah.

Sedangkan, yang wajib meng-qadha saja dan tidak membayar fidyah, mereka adalah orang sakit, musafir, wanita haid dan nifas.

 

 3. Berbohong membatalkan puasa

Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadits dari Abu Hurairahradhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum”

Maka bagi mereka yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali, namun pahalanya berkurang atau hangus.

 

4. Makan sahur itu pukul 2 malam atau pukul 3 malam

Makan Sahur seperti ini tidaklah keliru secara total, dan makan sahurnya tetap sah, akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan oleh Baginda Rasulullah Shollahu 'alaihi wassalam.

Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu, ً

“Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat”14. 

Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh. 

Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi rahimahullah mengatakan:  “Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar”

 

5. Harus berhenti makan dan minum ketika imsak

Waktu imsak yang yang kita ketahu di Indonesia ini  adalah waktu 10 menit sebelum masuknya waktu subuh. Mereka yang menetapkan waktu imsak ini beralasan untuk kehati-hatian agar tidak makan atau minum ketika sudah masuk waktu subuh. 

Namun yang menjadi masalah adalah adanya anggapan bahwa ketika sudah waktu imsak maka sudah tidak boleh makan atau minum lagi. Ini anggapan yang keliru. 

Allah ta'ala sudah sebutkan dalam Al Qur'an tentang batasan waktu bolehnya makan atau minum bagi orang yang hendak puasa adalah ketika terbit fajar atau waktu subuh. Allah ta'ala berfirman:

 "Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

 Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kamu mendengar adzan yang akan diperdengarkan oleh Ibnu Ummi Maktum. Karena dia tidak mengumandangkan adzan hingga terbit fajar (shadiq)”.

Rasulullah juga bersabda yang artinya"Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur" (HR. Ahmad).

Hal ini berarti waktu 10 menit sebelum Azan Subuh kita masih dipersilahkan makan dan minum.

 

Sumber : Beberapa salah kaprah seputar Puasa, Yulian Purnama. 

Silahkan download E-Booknya Beberapa Salah Kaprah Seputar Puasa Ramadhan

Ketidaksiapan yang Berbuah Pahit

Bismillah, Assolatu wassalamu'ala Rosulillah. Apakabar sahabat Bookmay, semoga kita semua berada dalam pertolongan dan perlindungan Allah Subhanahu Wata'ala. 

Bagaimana caranya, agar seseorang yang punya banyak kesibukan, tapi dia masih bisa berdakwah kepada banyak orang ?

Saudaraku, bagaimana caranya, agar seseorang yang punya banyak kesibukan, tapi dia masih bisa berdakwah kepada banyak orang ?

 Muslim : Saudaraku, caranya adalah dia mencatat no wa orang-orang  muslim yang dia kenal atau yang tidak dia kenal, lalu minta izin kepada mereka, lalu mengirimi mereka nasehat. Agar mereka mau berbuat baik atau mau menjauhi maksiat. Untuk mendapatkan no wa orang-orang muslim yang tidak dia kenal, bisa melalui group wa yang masuk ke hp androidnya.



Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Siapa saja yang mengajak kepada petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikuti) sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka dia memperoleh dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka (yang mengikuti) sedikitpun."

HR. Muslim

Nasehat yang dia kirimkan tersebut sebaiknya bujukan halus, disertai dalil-dalil pendukung, agar orang-orang yang dia beri nasehat mau melakukan amal-amal shalih atau menjauhi berbagai maksiat. Agar dia mendapatkan pahala yang terus mengalir, baik saat dia masih hidup di dunia atau saat sudah meninggal dunia.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Ali bin Abi Thalib :

"... Demi Allah, seandainya Allah memberi petunjuk disebabkan ajakanmu, itu lebih baik daripada (engkau) memperoleh rampasan perang berupa ternak-ternak yang paling bagus."

HR. Bukhari dan Muslim

Agar orang-orang yang dia dakwahi mau mengikuti kebenaran yang dia dakwahkan, sebaiknya penyampaiannya dengan lembut dan santun. Agar terlihat indah. Karena umumnya, manusia itu suka kepada keindahan.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu diletakkan pada sesuatu, kecuali membuatnya menjadi indah. Dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu, kecuali membuatnya menjadi jelek."

HR. Muslim

Sebelum dia berdakwah, hendaklah menuntut ilmu agama dahulu, agar apa yang dia dakwahkan benar-benar suatu kebenaran. Yaitu saat dia mengajak untuk berbuat baik, itu memang benar-benar perbuatan baik. Dan saat dia melarang dari kemaksiatan, itu memang benar-benar kemaksiatan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memberinya kefahaman di dalam ilmu agama." (Islam)

HR. Bukhari dan Muslim

Saat mendakwahkan kebenaran tersebut, hendaklah dia konsekwen. Yaitu jika dia mengajak untuk berbuat baik, maka dia juga melakukannya. Dan jika dia melarang dari perbuatan maksiat, maka dia juga menjauhinya.
Karena jika tidak konsekwen, dia akan mendapat dosa besar.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Pada hari kiamat, ada seorang laki-laki didatangkan dan dilempar ke dalam neraka, lalu dikeluarkan ususnya, lalu berputar-putar di dalamnya bagaikan berputarnya keledai yang sedang menggiling. Maka berkerumunlah penduduk neraka seraya berkata : "Hai fulan, mengapa engkau seperti itu ? Bukankah engkau yang menyuruh untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan munkar ?" Dia menjawab : "Benar, akulah yang menyuruh agar berbuat kebaikan, tapi aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang dari perbuatan munkar, tapi aku melakukannya."

HR. Bukhari dan Muslim

 Ia : Bagaimana jika dia sudah berdakwah bertahun-tahun, tapi tidak ada seorangpun yang mengikuti dakwahnya, bahkan dia mendapat gangguan ?

 Muslim : Hendaknya dia bersabar. Karena kewajibannya hanya sekedar menyampaikan kebenaran kepada manusia. Adapun hasilnya, diserahkan kepada Allah. Itu di luar kemampuannya. Karena hanya Allah yang bisa menjadikan seseorang mau menerima kebenaran. Pada hari kiamat, ada seorang Nabi tanpa diikuti seorangpun. Serta mendapat gangguan dari manusia, adalah sudah menjadi resiko dakwah. Walaupun demikian, dia tetap mulia di sisi Allah.

Dari Abi Abdurohman bin Abdillah bin mas'ud, dia berkata :

"Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, saat menceritakan salah seorang dari para Nabi, ketika dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan dia mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa : "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

HR. Bukhari dan Muslim

 


 Sumber : Abu Rusdan Soloا

Tamu terakhirmu, siapakah dia?

Saudaraku, tahukah engkau siapakah tamu yang terakhir itu ? Apakah engkau tahu apa yang dia inginkan untuk mendatangimu dan bertemu denganmu..??
Sesungguhnya dia datang kepadamu bukan karena menginginkan sesuatu dari hartamu, atau karena dia ingin ikut makan dan minum bersamamu...
Untuk masuk menemuimu, dia tidak butuh adanya pintu atau izin dahulu, dan juga tidak butuh menentukan waktu sebelumnya untuk datang kepadamu...



Dia tidak akan mengundurkan waktu untuk memberikan kesempatan kepadamu sedetik pun untuk bersiap-siap. Jika dia datang, tidak ada yang bisa melarang...
Dia bisa datang kepadamu kapan saja dan dalam keadaan apapun. Apakah ketika diri sedang sibuk atau senggang, sehat ataupun sakit, kaya atau miskin, dalam perjalanan atau berada di kampung halaman...
Dia juga tidak mau menerima hadiah atau pun suap, sebab harta dunia ini seluruhnya tidak ada apa-apanya di matanya, dan dia pun jelas tidak membutuhkannya. Engkau tidak akan bisa menghalangi maksud dari kedatangannya...
Saudaraku, dia hanyalah menginginkanmu dan tidak menginginkan hal lainnya selain dirimu. Dia menginginkanmu seutuhnya. Dia ingin untuk menyudahi kehidupanmu dan ingin mematikanmu. Dia ingin mencabut nyawamu, membinasakan jiwamu dan juga mematikan badanmu...
Dia adalah MALAIKAT MAUT...!!!
Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Katakanlah : "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan" (QS. As-Sajdah [32]: 11)
Perjalanan hidup sudah hampir berhenti dan kereta umur pun telah mendekati akhir...
Ya Allah, wafatkan kami husnul khatimah...
Ustadz Najmi Umar Bakkar

Barrakallahu fiikum 


Sumber : Fb. Kuansing Mengaji

Kenapa aku mencintai negeri ini ?

 Bismillah..


PESANKU UNTUK IKHWAH DAN AKHWAT DIDARUSSALAM PALEMBANG TERCINTA.


Sebuah ungkapan kata kata yang membuatku bergetar dan terharu...


Fadhilatu Syekh Dr. Akram ziyadah -Hafizhahullah- berkata dimuqoddimah muhazarah beliau: Kenapa aku mencintai negeri ini ( yang beliau maksud kota Palembang)???

Bahkan aku lebih mencintainya daripada kalian dan akulah penduduk asli kota ini..

Aku mencintai Palembang karena ada hubungan nasab ilmu yaitu Salah satu dari Sanad hadits yang menghubungkan diriku sampai ke Rasulullah berasal dari Palembang, (البالمبانجي).




Masya Allah... Allahu Akbar...

Setelah selesai kajian saya berusaha mendekati syekh dan bertanya siapa nama ulama hadits ini?

Qoddorallah beliau lupa namanya, yg masih beliau ingat hanya nama belakangnya yaitu Albalembangi..

Tapi ana mendapatkan informasi dari ust Ibnu Hajar -hafizahulla-, bahwa sosok ulama hadits yg dimaksud oleh syekh Akram adalah syekh Abdus Somad Albalimbangi -رحمه الله- 


Ikhwanii waakhwatii... Saudara dan Saudariku terutama yang tinggal di kota Palembang Emas Darussalam, ketahuilah bahwasanya Ada diantara Leluhur kalian dikota ini yg telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk membela Allah dan Rasul-Nya, menghabiskan umurnya untuk memperjuangkan Agama Allah, membela dan menjaga Hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, sampai Sampai diabadikan oleh sejarah, tercatat namanya dideretan Para Rijal hadits, yaitu diantaranya Fadhilatu Syekh Almuhadits Abdus Somad Albalimbangi -Rahimahullah-.


Saudaraku... Ikuti jejak beliau dalam menuntut ilmu dan mengajarkanya kepada manusia, bersungguh sungguhlah dalam thalubul Ilmi, Karena dengan ilmu kalian menjadi Mulia.


Darussalam 


FB ust. Umar Alfanani


26.10. 1444 H

Siapakah Sosok Luqman Al-Hakim yang Allah Abadikan Kisahnya dalam Al-Qur'an?

Sahabat Book my Madrasah, Siapakah Sosok Luqman Al-Hakim yang Allah Abadikan Kisahnya dalam Al-Qur'an?

Luqman Al-Hakim yang kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur'an adalah orang saleh dari kalangan awliya' yang Allah karuniai banyak hikmah dan keutamaan.

Beliau berasal dari negeri Habasyah dan para ulama menyebutkan ciri fisik Luqman yaitu berkulit hitam, bibir beliau tebal, kulit kaki beliau pecah-pecah.

Sedangkan profesi beliau diperselisihkan oleh para ulama ada yang mengatakan sebagai penjahit, tukang kayu, penggembala kambing, ada juga yang mengatakan sebagai hakim.

 

Baca Juga : Jangan membuat anak tidak betah di dalam rumah



Demikian yang disebutkan oleh para mufassirin. Yang jelas Allah tidak melihat hamba-Nya dari rupa, harta dan status sosial, tetapi yang Allah lihat kebersihan hati dan kesalehan amalnya.

Ada pelajaran penting yang patut kita ambil dari ucapan Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم


"Dan (ingatlah) tarkala Luqman berkata kepada anaknya, beliau hendak memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang teramat besar."


(Luqman: 13)

Syaikh Al-'Allamah Rabi' bin Hadi Al-Madkhali hafidzhahullah menjelaskan,

"Termasuk hikmah memulai hal yang terpenting dari yang penting sebagaimana yang dilakukan Luqman kepada anaknya beliau memulainya dari pendidikan tauhid dan melarangnya dari perbuatan syirik.

Tidak disangsikan lagi bahwa akidah tauhid dan membersihkan jiwa masyarakat dari keyakinan-keyakinan syirik merupakan fondasi utama yang harus diperhatikan sebelum memulai perkara yang lain.


Baca juga: Karakter Pendidik Sukses 

 
Tak ada dosa dan kezaliman yang paling besar melebihi perbuatan syirik. Sebab itu Allah tidak mengampuni dosa syirik selama pelakunya belum bertaubat dan mengampuni dosa-dosa yang lain selain syirik jika Allah menghendakinya."


(Syarh Washaya Luqman Al-Hakim Libnihi)

Semoga kita dapat meniru kesalehan Luqman Al-Hakim serta mengajarkan kesalehan itu kepada anak-anak dan masyarakat.
________

Rumah Sebagai Filter

Bismillah, sahabat book my madrasah. Yuk, kita lebih protektif lagi terhadap anak-anak kita. Karena rumah seperti tempat untuk mensterilisasi segala keburukan-keburukan atau perkara-perkara negatif yang ia dapatkan di luar. Apalagi bagi anak-anak yang masih kecil. Kadang-kadang dia dapat kamus-kamus baru itu dari luar. Dari teman-temannya di luar, dari anak tetangga, dari sekolah dan lain sebagainya. Rumah harus menjadi penyaring, sebagai filter, sebagai pembersih terhadap racun-racun yang yang dibawa oleh anak dari luar rumah.


Baca Juga : Dua Keadaan dalam berdoa ketika Sholat



Demikian pula anak-anak remaja, tentunya salah satu kecenderungan anak-anak remaja adalah mencari kesibukan kegiatan di luar rumah. Namun jangan sampai dia meninggalkan rumah sama sekali. Artinya dia melupakan rumahnya. Dia tetap harus ingat dan kembali ke rumahnya. Dan tentunya ini ada keterikatan antara dirinya, hatinya, jiwanya, dengan rumah. Karena apapun yang terjadi tentunya rumah adalah tempat yang paling aman bagi anak-anak kita.


Baca Juga : Karakter Pendidik Sukses

 
Tentunya menjadikan rumah sebagai pesantren atau sekolah, ini perlu perhatian dari para orangtua. Dan pendidikan rumah itu menunjang kesuksesan pendidikan di sekolah. Rata-rata anak-anak yang berprestasi itu mereka mendapatkan pendidikan dari rumah. Dan anak-anak yang jeblok prestasinya artinya itu rata-rata mereka dibiarkan saja oleh orang tuanya di rumah. Itu dari sisi prestasi.

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary

Baca Juga : Mau daftar Implementasi Kurikulum Merdeka, tapi Akun kepala sekolah baru tidak bisa akses ke situs belajar.id

 

📲 Silakan disebarluaskan dengan tetap mencantumkan sumbernya. Semoga bermanfaat untuk kaum muslimin.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bergabung di grup parenting sunnah
https://bit.ly/kelasparentingsunnah .

🌎 Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project

📷 Instagram
https://www.instagram.com/kajianparentingsunnah .

https://www.instagram.com/salafproject

📹 YouTube
https://www.youtube.com/c/KajianParentingSunnah
💝 Dikelola oleh Salaf Project
💝 Tim Admin Group WA Kajin Parenting Sunnah

Jangan membuat anak tidak betah di dalam rumah

Bismillah, sahabat book my madrasah, rumah tentunya memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan. Dan bisa dikatakan bahwa segala sesuatu itu bermula dan berawal dari rumah. Jika pendidikan di dalam rumah berjalan dengan baik, maka ini akan menunjang keberhasilan pendidikan anak ini di luar rumah. Dan apabila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka cenderung si anak akan jatuh pada pendidikan di luar rumah yang masih belum atau tidak jelas arahnya.



Dan pengaruh pendidikan di luar rumah tersebut tentunya sangat besar. Kita tidak tahu siapa yang mewarnai anak-anak kita di luar sana. Apagi zaman sekarang, pengaruh lingkungan dan pergaulan sangat besar. Terutama bagi orang tua yang tidak stand by di rumah karena kesibukan mereka di luar (bekerja ataupun berkarir). Ini kadang-kadang menjadi ganjalan menjalankan pendidikan di dalam rumah.

Tentunya bagi suami ataupun ayah punya kewajiban keluar rumah untuk mencari nafkah atau rezeki. Tentunya ayah dan ibu saling bahu-membahu. Ibu memainkan peran yaitu menjadi guru dan madrasah (sekolah) bagi anaknya di rumah. Namun ini akan menjadi sulit jika kedua-keduanya keluar. Sehingga anak kadang-kadang dititipkan. Menitipkan anak kepada orang lain ini memiliki resiko yang sangat besar. Apalagi kepada orang yang tidak kita kenal, misalnya babysitter dan sejenisnya. Kepada orang yang kita kenal saja kita belum merasa aman sepenuhnya. Tentunya keinginan orang tua terhadap anak tidak sama seperti keinginan orang orang lain terhadap anak tersebut.

Apabila pendidikan di dalam rumah ini terbengkalai, maka bisa ditebak apa yang terjadi.

Tentunya anak akan terperangkap pendidikan luar rumah yang banyak merusaknya daripada memperbaikinya, banyak negatifnya daripada positifnya.
Ini akan berpengaruh kepada perkembangan si anak tersebut. Dia akan hampa ataupun kosong dari nilai-nilai kebaikan.
Maka untuk mengantisipasi kejadian perkara ini, kata kuncinya adalah jangan membuat anak tidak betah di dalam rumah. Dan apabila di rumah sendiri saja dia tidak merasa nyaman, dia pasti akan mencari pelampiasan di luar rumah. Oleh karena itu jangan kita cuek atau tidak acuh terhadap anak di rumah. Karena kadang-kadang anak itu merasa kurang diperhatikan oleh kedua orang tua. Seperti misalnya membuka komunikasi dengan anak di rumah, mengajak berkomunikasi. Karena tentu kuncinya adalah membuka komunikasi. Kalau ada komunikasi antara orang tua dan anak, tentunya ini akan sangat membantu. Ini adalah awal yang baik di dalam menanamkan satu nilai.

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary

📲 Silakan disebarluaskan dengan tetap mencantumkan sumbernya. Semoga bermanfaat untuk kaum muslimin.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bergabung di grup parenting sunnah
https://bit.ly/kelasparentingsunnah .

🌎 Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project

📷 Instagram
https://www.instagram.com/kajianparentingsunnah .

https://www.instagram.com/salafproject

📹 YouTube
https://www.youtube.com/c/KajianParentingSunnah
💝 Dikelola oleh Salaf Project

Menjaga Kehormatan saudara seiman adalah sebuah ibadah

Sahabat book my madrasah, kita mungkin menilai ibadah itu hanya sekilas sholat, puasa, sedekah, haji, dan yang terlihat dalam rutinitas ibadah saja, namun kita kadang tidak tahu bahwa dari bangun tidur sampai kita tidur lagi semuanya bisa jadi ibadah yang bisa mendapatkan banyak pahala. 

 

 

Baca Juga : 

Dua Keadaan dalam berdoa ketika Sholat 

Karakter Pendidik Sukses: Sifat Penyayang 


Nah, terkait itu Umar Bin Abdul Azis Berkata:

قال عمر بن عبد العزيز :
" أدركنا السلف وهم لا يرون العبادة في الصوم ، ولا في الصلاة ،
ولكن في الكف عن أعراض الناس
فقائم الليل وصائم النهار؛ إن لم يحفظ لسانه ؛ أفْلَس يوم القيامة ". التمهيد ١٧ / ٤٤٣.


Umar bin 'Abdul 'Aziz bertutur :

"Kami mendapati salaf, mereka tidak menilai ibadah itu hanya dalam puasa atau sholat, namun ibadah hakiki adalah dengan menahan diri dari menodai kehormatan manusia.
Orang yang sholat di malam hari dan puasa di siang hari jika dia tidak menjaga lidahnya maka dia akan bangkrut/merugi di hari kiamat kelak".

{ At Tamhid 17/443 }

Tak cukup sampai di situ, para ulama salaf juga mengajarkan ibadah ini kepada putra putri mereka.

قال الشيرازي رحمه الله : " أذكرُ أنّي كنتُ في عهد الطفولة متعبِدًا، قوَّام الليل، مولعًا بالزهد والتقوى.
وذات ليلة كنتُ جالسًا في خدمة أبي، ولم أُغمض عيني طول الليل،
وأخذتُ المصحف العزيز في حجري، وحولنا قومٌ نيام ..... فقلت لأبي : إنَّ واحدًا من هؤلاء لا يرفع رأسه ليصلي ركعتين ، وقد ناموا هكذا كأنهم موتى!. فقال: يا روح أبيك ! ، لو كنتَ أنتَ أيضًا نمتَ ، لكان خيراً من أن تقع في الخلق ". [جنّة الورد / ص١٠٢].

Asy Syirozi bertutur :

Aku masih ingat saat aku masih kecil, aku begitu rajin ibadah, sholat malam, Zuhud dan bertaqwa.

Suatu malam saat aku membantu ayahku dan aku belum memejamkan mataku sepanjang malam itu.
Aku ambil mushaf Al Qur'an di pangkuanku dan disekitar kami , banyak manusia yg masih terlelap tidur.

Aku katakan pada ayahku :

Wahai ayah, tak seorang dari mereka mengangkat kepalanya untuk sholat dua rokaat, mereka tidur bagaikan mayyit ...

Ayahku menjawab:

Seandainya kamu juga tidur seperti mereka, itu lebih baik bagimu daripada kamu mencela orang.

{Jannatul Ward hal.102 }

Dua Keadaan dalam berdoa ketika Sholat

 TERDAPAT DUA KEADAAN DALAM BERDOA KETIKA SHALAT

Dua keadaan tersebut; yang pertama: saat Sujud,
Yang kedua: saat duduk sebelum salam.

Dalil terkait memperbanyak doa disaat sujud: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ)


Artinya:
“Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” [HR. Muslim, no. 482]



Dalil terkait memperbanyak doa disaat duduk tasyahhud akhir sebelum salam. Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِذَا صَلى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثنَاءِ عَلَيْهِ ثُم لْيُصَلِّ عَلَى النبِيِّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ ثُم لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat maka hendaklah ia memulai dengan memuji Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه و سلم kemudian berdoalah setelah itu dengan doa yang ia kehendaki“. (Hasan, HR. At-Tirmidzi dalam sunannya).
----------

Dalam doa disaat shalat, boleh juga meminta keinginan dunia dan akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:


فلو دعا الإنسان وقال: اللهم إني أسألك أن ترزقني سيارة مريحة، كان ذلك جائزا. أو قال: اللهم ارزقني بيتا حسنا، فإنه يجوز. أو قال: اللهم ارزقني زوجة جميلة، فإنه أيضاً يجوز... يجوز للمصلي أن يدعو الله تعالى بما شاء في الصلاة من أمور الدنيا والآخرة.


Terjemahannya:
👉🏻 "Seandainya seseorang berdoa dengan mengatakan,
'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar memberiku mobil yang nyaman,'
maka hal itu boleh.

👉🏻 Atau dia mengucapkan,
'Ya Allah, berilah aku rumah yang bagus,'
itu boleh.

👉🏻 Atau dia mengucapkan,
'Ya Allah, berilah aku istri yang cantik,'
itu juga boleh...

Orang yang mengerjakan shalat boleh untuk berdoa kepada Allah dalam shalat dengan apa yang dia inginkan dari urusan-urusan dunia dan akhirat." (Syarh Shahih Muslim, (jilid 2 hlm. 148))
----------

Referensi:
- Ash-Shahih, imam Muslim An-Naishaburi
- Riyadhush-Shalihin, Syeikh Al-Utsaimin

Oleh: Lilik Ibadurrahman, M.Pd

--------------------

Karakter Pendidik Sukses: Sifat Penyayang

Bismillah, sahabat book my madrasah, Ini adalah sifat yang harus dimiliki oleh setiap pendidik; guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Mungkin kita sering tidak sadar bahwa anak-anak yang masih bersih hatinya, masih polos jiwanya, itu mampu membaca perasaan orang yang berinteraksi dengannya. Anak-anak itu tahu siapa orang yang menyayanginya dan siapa yang tidak menyayanginya. Dan seorang anak biasanya lebih objektif dalam memberi penilaian. Karena tidak ada unsur-unsur yang mempengaruhinya. Mereka dapat merasakan mana orang yang menyayangi dan mana orang yang tidak menyayangi. Dan perasaan sayang ini menjadi penghangat suasana dan menjadikan proses transfer ilmu ini menjadi suatu yang nyaman dan menyenangkan.

 


Baca Juga : Ada yang baru di verval pd 2023  

Salah satu kunci kesuksesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mendidik para sahabat adalah sifat beliau yang ramah lagi penyayang. Dan sifat ini yang memberi kesan mendalam bagi siapa saja yang mendapatkan pengajaran dan pendidikan dari beliau. Seperti sifat penyayang yang ditunjukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada beberapa orang yang belajar bersama beliau. Seperti yang diceritakan oleh Abu Sulaiman Malik bin Khuwairis Radhiyallahu ‘Anhu, ia menceritakan bahwa: “Kami menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama satu rombongan. Saat itu kami adalah pemuda yang sebaya dan kami tinggal bersama beliau selama 20 hari. Dan beliau adalah orang yang penyayang lagi ramah.” Ini kesan yang bisa ditangkap oleh Malik bin Khuwairis dan teman-temannya. Yaitu beliau adalah seorang yang penyayang lagi ramah. 20 hari bukanlah waktu yang ia sedikit. Dengan waktu itu, cukup mereka untuk mengenali karakter Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hingga akhirnya beliau mengerti bahwa kami merindukan keluarga masing-masing. Lantas beliau menanyakan: “Siapa saja keluarga kami yang tinggal di rumah?” Maka kamipun menjelaskannya. Setelah itu beliau memerintahkan: “Sekarang kembalilah kalian kepada keluarga kalian masing-masing. Tinggallah bersama mereka lalu ajari mereka ilmu yang telah kalian dapatkan dan berbuat baiklah kepada mereka. Laksanakanlah shalat pada waktunya (Nabi menjelaskan shalat lima waktu). Dan jika telah masuk  waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kamu mengumandangkan adzan dan hendaklah mengimami yang paling tua usianya di antara kalian atau yang paling bagus bacaannya di antara kalian.”

 

Baca Juga : Mau daftar Implementasi Kurikulum Merdeka, tapi Akun kepala sekolah baru tidak bisa akses ke situs belajar.id


Jadi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan pengarahan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan ketika mereka berada di rumah mereka. Dzahirnya mungkin tidak ada masjid di kampung mereka atau di tempat mereka karena Islam adalah sesuatu yang masih sedikit. Sehingga mereka mengerjakan shalat di rumah. Dan demikian pengarahan Nabi kepada anak-anak muda yang belajar bersama beliau di rumah beliau.



Seperti yang dikatakan oleh Malik bin Khuwairis bahwa beliau adalah seorang yang penyayang dan ramah. Itu adalah salah satu modal Nabi di dalam mendidik para sahabat-sahabat beliau.

Dan sifat penyayang ini merupakan salah satu perkara yang akan melembutkan hati. Dengan sifat sayang, orang yang kita hadapi akan menjadi tunduk seperti yang dikatakan Nabi:

تَهَادَوْا تَحَابُّوا


“Salinglah kalian memberi, niscaya kalian akan saling menyayangi.”


Baca Juga : Lakukan Pemadanan NPWP kalian ke NIK, jika tidak NPWP kalian di tahun 2024 tidak bisa digunakan lagi! 

 

Kasih sayang ini akan ada interaksi timbal balik antara yang menyayangi dan yang disayangi. Dan ini adalah salah satu sifat yang disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan salah satu sifat yang akan membawa kebaikan. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa ada seorang wanita bersama dua anaknya mendatangi ‘Aisyah. Lalu ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha memberinya tiga butir kurma. Wanita itu pun memberi tiap anaknya satu butir kurma. Lalu wanita itupun menyisakan satu butir kurma untuk dirinya. Kemudian kedua anak itu memakan kurma mereka masing-masing. Setelah selesai memakan kurma mereka masing-masing, mereka menatap ibunya. Maka wanita itu mengerti apa yang diinginkan oleh anak-anaknya, yaitu menginginkan kurma yang ada di tangannya. Maka ia pun membelah satu butir kurma yang tersisa itu lalu memberikan masing-masing setengah hingga tidak tersisa untuk untuk dirinya. Tidak lama kemudian Nabi pulang ke rumah dan Aisyah menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah kamu takjub melihatnya Wahai ‘Aisyah? Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merahmati wanita tersebut karena kasih sayangnya kepada kedua anaknya.”


Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary

📲 Silakan disebarluaskan dengan tetap mencantumkan sumbernya. Semoga bermanfaat untuk kaum muslimin.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bergabung di grup parenting sunnah (Akhwat)
https://bit.ly/kelasparentingsunnah .

🌎 Follow Akun Dakwah Parenting Sunnah & Salaf Project

📷 Instagram
https://www.instagram.com/kajianparentingsunnah .

https://www.instagram.com/salafproject

📹 YouTube
https://www.youtube.com/c/KajianParentingSunnah
💝 Dikelola oleh Salaf Project

Istri yang Tholehah

 بسم الله ...

السلام عليكم ورحمة اللّٰه وبركاته



Isteri yang tholehah, adalah isteri yang buruk akhlak dan perangainya. Kebalikan dari isteri yang sholehah. Kalau seorang suami memiliki isteri yang tholehah, ini sangat membahayakan dirinya. Pastilah urusan agamanya akan senantiasa terganggu.





Al-Imam Abu Bakr Ibnul 'Araby al-Maliky rahimahullah berkata:


إذا لم يكن للرجل زوجة صالحة فإنه لا يستقيم أمره معها إلا بذهاب جزء من دينه.


"Jika seseorang tidak memiliki istri yang shalihah maka sungguh urusannya tidak akan bisa lurus bersamanya, kecuali dengan mengorbankan sebagian urusan agamanya." (Ahkamul Qur'an, jilid 1 hlm. 536)


Memiliki istri yang tholehah, istri yang tidak punya adab dan buruk akhlaknya, apalagi ditambah dengan buruk rupa, maka ini merupakan penderitaan di atas penderitaan sepanjang hayat dikandung badan bagi seorang suami.


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


وأربعٌ من الشقاوةِ : الجارُ السوءُ والمرأةُ السوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْء


“Dan empat kesengsaraan:  Tetangga yang buruk (akhlak dan perangainya), istri yang buruk (akhlak dan perangainya), rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk”.[HR. Ibnu Hibban, Al-Baihaqiy. Berkata Syu’aib Al-Arna’uth : Hadits Shahih).


Oleh karena itu, bersyukurlah dan berbahagialah yang memiliki isteri sholehah, wanita yang sangat langka dan mahal, yang lebih berharga daripada dua matanya, dua tangannya dan dua kakinya.


Berkata Maslamah bin Abdul Malik rahimahullah :


المرأة الصالحة خير للمؤمن من العينين واليدين والرجلين.


"Istri yang shalihah lebih baik bagi seorang mu'min daripada dua mata, dua tangan dan dua kakinya." (Ahsanul Mahasin, hlm. 368).


=======🌴🌴=======


#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ


“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]


•┈••✵📗📘📙📕✵••┈•


Turut membagikan : 

https://t.me/kajianfikihpasutri

Perempuan di bulan Ramadhan "Jika haid, apakah tidak perlu puasa dan tidak perlu meng-qadha"!

"Jika haid, maka tidak perlu puasa dan tidak perlu meng-qadha"


Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. 'Aisyah radhiallahu'anha pernah ditanya:

 


ما بَالُ الَائِضِ تَقْضِي الصّوْم َ، ولَ تَقْضِي الصّلَة َ. فَقالَتْ: أحَرُورِيّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ:

لَسْتُ بحَرُورِيّةٍ، ولَكِنّي أسْأَلُ. قالَتْ: كاانَ يُصِيبعُنَا ذلكََ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصّوْم ِ، ولَ

نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصّلَة ِ


 

“Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wasallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat”*.

 

Baca : Loker PT.Pln Lubuk Linggau


Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan. Dan tidak ada ikhtilaf di antara ulama dalam masalah ini. An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Ulama kaum Muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib untuk shalat dan puasa ketika masa haidnya. Dan mereka sepakat bahwa wanita haid tidak wajib meng-qadha shalat.

Meraih Ampunan Allah di bulan Ramadhan

MERAIH AMPUNAN ALLAH AZZA WA JALLA AL-GHAFUR DI BULAN RAMADHAN YANG MULIA

Di antara nama Allah Azza wa Jalla adalah al-Ghafûr, dan di antara sifat-sifat-Nya adalah maghfirah (memberi ampunan). Sesungguhnya para hamba sangat membutuhkan ampunan Allah Azza wa Jalla dari dosa-dosa mereka, dan mereka rentan terjerumus dalam kubangan dosa. 

 

 Baca Juga : Makanan Empat Sehat Lima Sempurna  

 


 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ


Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim, no. 2749]


Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Allah Azza wa Jalla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan.


Baca Juga : Ujang Ngembek

Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, karena bulan itu merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran yang pahalanya adalah surga.  Allah Azza wa Jalla berfirman:


إِنَّمَيُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. [az-Zumar/39:10]


Kesabaran adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka. Dalam hadits shahîh dijelaskan:


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّنَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَجِبْرِيْلُ يَدْعُوْ قَالَ الصَّحَابَةُ : أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ الله قَالَ:جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ : بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّانِيَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الثَّالِثَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن


Sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni.Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu.Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.[1]


Seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia dengan adanya amalan-amalan shaleh agar Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa menghapus kejelekan.


🛑 SEBAB-SEBAB AMPUNAN YANG DISYARIATKAN ITU DIANTARANYA :

 

*1. Tauhid*

Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan yang paling agung. Allah Azza wa Jalla berfirman:


إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [an-Nisâ`/4:48]


Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi dosa bersama tauhid, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun, hal ini berhubungan erat dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila Dia Azza wa Jalla berkehendak, akan mengampuni. Dan bisa saja, Dia Azza wa Jalla berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah Azza wa Jalla dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan. ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


Sesungguhnya Allah akan mengambil seorang dari umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat. Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan amal miliknya. Setiap lembaran seperti sepanjang mata memandang. Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu”. Maka ia pun menjawab: Tidak wahai Rabbku”. Lalu Allah berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?” ia menjawab: Tidak ada wahai Rabb”. Lalu Allah berfirman: (Yang benar) ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami, tidak ada kezhaliman atasmu pada hari ini.Lalu keluarlah satu kartu berisi syahadatain. Kemudian Allah berfirman: Masukanlah dalam timbangan!” Ia pun berkata: Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran itu?” Maka Allah berfirman: Sungguh kamu tidak akan dizhalimi.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih berat. Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah”. [2].


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan:


قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa sepenuh bumi dosa kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan. [HR Muslim].


Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah Azza wa Jalla dengan adanya pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran-lembaran tersebut dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allah Azza wa Jalla menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka Allah Azza wa Jalla menggantikannya dengan ampunan.


Baca Juga : Umar bin Khattab dan Jin 

 

*2. Doa dengan Pengharapan.*

Allah Azza wa Jalla memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman:


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ


Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. [Ghâfir/40:60]


Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang-penghalang. Kadangkala, pengabulan itu tertunda, karena tidak terpenuhinya sebagian syarat atau adanya sebagian penghalangnya.


Di antara syarat terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijâbah dari Allah Azza wa Jalla , sungguh-sungguh dalam meminta, tidak menyatakan insya Allah (Ya Allah Azza wa Jalla , kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendakinya-red), tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, mengulang-ulang doa tiga kali dan  memulainya dengan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dan salawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal dan lain-lain.


Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari pengampunan dosa seperti diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Kepada seseorang yang berujar: Saya tidak mengetahui doamu dengan perlahan yang juga dilakukan Mu’âdz, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ


Permohonan kami di seputar itu [3]


Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga dan diselamatkan dari neraka. Abu Muslim al-Khaulâni mengatakan: “Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku, kecuali saya jadikan doa itu permohonan agar dilindungi dari api neraka.”


*3. Istigfâr (Memohon Ampunan)*

Karena permohonan ampun ini merupakan pelindung dari adzab, penjaga dari setan, penghalang dari dari kegelisahan, kefakiran dan penderitaan, pengaman dari masa paceklik dan dosa; meskipun dosa-dosa seseorang telah menggunung sampai menyentuh langit. Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman :


يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga.(HR. at-Tirmidzi).


Membaca istighfâr adalah penutup terbaik bagi berbagai amalan dan umur serta penutup majlis.


*4. Berpuasa di siang hari dan shalat malam karena iman, mengharapkan balasan pahala dari Allah Azza wa Jalla , ikhlas serta dalam rangka taat kepada Allah Azza wa Jalla.*

Dia berpuasa bukan dengan niat mengikuti orang banyak, juga tidak untuk mendapatkan sanjungan orang, tidak untuk melestarikan adat atau supaya sehat; juga tidak berniat pamer serta tidak untuk mensukseskan urusan duaniawi. Dia juga tidak berniat untuk mendoakan keburukan yang tidak pantas buat seorang Muslim. Dia melaksanakan ibadah puasa terdorong oleh niat beriman kepada Allah Azza wa Jalla, merealisasikan ketaatan kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits dinyatakan :


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat.[al-Bukhâri dan Muslim]


Alangkah luar biasanya (fantastis) seorang yang melaksanakan ibadah puasa dan menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan sebagaimana ketika dilahirkan oleh dia ibundanya, yaitu tidak menanggung dosa dan berhati suci. Dalam hadits yang lain :


مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lewat.[4]


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ


Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar (diampuni) dari dosa-dosanya sebagaimana dia dilahirkan oleh ibundanya.[5]


Dengan melaksanakan semua ini berarti seorang Muslim telah menjaga waktu siangnya dengan puasa, memelihara waktu malamnya dengan shalat terawih serta berusaha mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla .


*5. Melaksanakan shalat malam pada Lailatul Qadar karena iman dan ingin mendapatkan pahala.*

Lailatul Qadar adalah suatu malam yang Allah Azza wa Jalla muliakan, melebihi semua malam lainnya, suatu malam saat Allah Azza wa Jalla menurunkan kitab-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman :


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ


Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`ân) pada malam kemuliaan [al-Qadr/97:1]


Allah Azza wa Jalla menjadikan Lailatul Qadar ini lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam ini para malaikat turun dan menjadikannya malam keselamatan dari segala keburukan dan dosa. Allah Azza wa Jalla mengkhususkan satu surat dalam al-Qur’ân yang membicarakan tentang malam ini. Orang yang terhalang dari berbagai kebaikan pada malam ini berarti dia terhalang dari semua kebaikan.


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencari Lailatul Qadar ini pada seluruh hari pada bulan Ramadhan, karena beliau n pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kemudian sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Orang yang ingin mendapatkan keberuntungan, maka dia akan antusias untuk melaksanakan shalat malam pada malam yang lebih baik dari delapan   puluh tiga tahun dan empat bulan.


Dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lewat [6]


Untuk mendapatkan ampunan di malam itu, tidak disyaratkan untuk menyaksikannya secara langsung. Namun syaratnya adalah orang melakukan qiyamul lail sebagaimana tertuang dalam hadits tersebut.


*6. Bersedekah*

Bersedekah termasuk salah satu qurbah (ibadah yang mendekatkan diri) yang agung di hadapan Allah Azza wa Jalla . Dengannya, seorang hamba memperoleh kebaikan, sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla berikut:


لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ


Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan. sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imrân/3:92].


Dalam hadits Mu’âdz, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ


Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Bersedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Dan shalat seseorang di kegelapan malam …[at-Tirmidzi no: 2541]


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau berjumpa dengan malaikat Jibril. Saat itu beliau lebih berbaik hati daripada angin yang bertiup sepoi-sepoi. Di antara bentuk sedekah terbaik adalah memberi makan orang yang puasa (ifthârus shâim). Disebutkan dalam hadits:


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


Barang siapa memberi buka puasa bagi orang yang puasa maka ia memperoleh pahala sepertinya, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun. [HR. at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albâni]


Pahala orang yang bersedekah dilipatgandakan sampai tujuh ratus lipat dan kelipatan yang lebih banyak lagi. Di bulan Ramadhan, penggandaan pahala itu semakin besar. Di antara pemandangan yang sangat menarik, berbondong-bondongnya orang di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan masjid-masjid lainnya untuk memberi buka puasa bagi kaum Muslimin di bulan Ramadhan.


*7. Melakukan Umrah*

Ibadah umrah termasuk faktor yang menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah bersabda:


الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ


Ibadah umrah ke ibadah umrah (berikutnya) adalah penggugur dosa antara keduanya. Dan pahala haji mabrur tiada lain adalah surga. [al-Bukhâri no: 1650]


Umrah di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya. Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehabis pulang dari haji Wada’ berkata kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinân : “Apa yang menghalangimu untuk berhaji (denganku).” Ia menjawab: “Abu Fulan (suaminya) memiliki dua onta. Salah satu dipakainya untuk berhaji dan yang lain untuk mengairi persawahan.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:


فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِيْ حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِيْ


Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan dapat mengganti haji bersamaku. [HR Bukhâri no 1863; Muslim no 3028]


Betapa besar keberuntungan orang yang umrah di bulan Ramadhan. Ia bagaikan berhaji bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seperti orang yang menyertai beliau dalam ihram, sai dan thawaf dan seluruh manasik haji beliau.


*8. Menyempurnakan Puasa Sebulan Penuh*

Ada sekian banyak orang yang akan bebas dari api neraka di bulan Ramadhan, dan itu terjadi di setiap malam. Allah Azza wa Jalla menyempurnakan pahala orang-orang yang sabar tanpa perhitungan khusus. Ada Ulama yang mengatakan:


مَنْ صَامَ الشَّهْرَ وَاسْتَكْمَلَ اْلأَجْرَوَأَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدَرِ فَقَدْ فَازَ بِجَائِزَةِ الرَّبِّ


Barang siapa berpuasa sebulan penuh dan meraih pahala sempurna, dan berjumpa dengan malam lailatul qadar, sungguh ia telah menggapai hadiah dari Allah


Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa kita sekalian dan menutupi kekurangan-kekurangan kita dan memudahkan segala urusan kita.


(Diambil dari kitab Tadzkîrul Anâm Bidurûs ash-Shiyâm, hlm 265-272, karya Syaikh Sa`d bin Sa`îd al-Hajuri,  Dâr Ibnul Jauzi)


**************


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo.


_____


Footnote


[1]   Penulis kitab Nadhratun Na’îm (10/5014) berkata : hadits ini dikeluarkan al-Hâkim dalam Al-Mustadrak (4/154) dan berkata: hadits ini shahîh sanadnya, namun imam al-Bukhâri dan Muslim tidak mengeluarkannya. Imam adz-Dzahabi menyetujui hal ini. (Dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb).

[2] HR at-Tirmidzi kitab Iman bâb Mâ Jâ`a Fîman Yamûtu Wahuwa Yasyhadu An Lâ Ilâha Illallâh  dan dishahîhkan al-Albâni dengan no. 2639

[3] Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ no. 3163

[4] HR Imam Muslim, Kitâb Shalâtil Musâfirîn, bab At-Targhîb Fî Qiyâmi Ramadhân Wa Huwa Shalâtut Tarâwîh, no. 1778

[5] Penyusun kitab Nadhratun Na’îm mengatakan : Diriwayatkan oleh Imam an-Nasâ’i 4/158 dan lafazh ini adalah lafazh imam an-Nasâ’i; diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad 1/191. Syaikh Ahmad Syâkir mengatakan : “Sanad hadits ini shahîh.”

[6] HR Imam Muslim, Kitâb Shalâtil Musâfirîn, bab At-Targhîb Fî Qiyâmi Ramadhân Wa Huwa Shalâtut Tarâwîh, no. 1778"


Ⓜ️edia Sunnah Nabi



📘📖............................✍🏻

Berlipat Ganda Pahala Di Bulan Ramadhan

Bismillah, Sahabat Book My Madrasah, Pahala sebuah amalan menjadi berlipat ganda karena beberapa sebab. Di antaranya adalah kemuliaan suatu waktu. Bulan Ramadhan adalan bulan yang paling mulia dari bulan-bulan lainnya. Sehingga amal kebajikan pada bulan itu akan bernilai besar dan berlipat ganda dibanding bulan yang lain. Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:



 عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً


“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan pahala haji.” (HR. Bukhari: 1863, Muslim: 1256)



Sungguh berlipat ganda. Maka dari itu sangat rugi rasanya bilamana kita tak menyadari hal ini sehingga kita kehilangan banyak kebaikan.
 

Oleh sebab itu, jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu begitu saja. Mari bersemangat dan bersegera melakukan kebajikan. Banyak baca Al-Qur’an, berdo’a, bersedekah, berdzikir, dst dari amal-amal ketaatan. Sekarang dan jangan tunda karena kita tak tahu apakah masih hidup esok ataukah tidak. Apakah kita masih diberikan kesempatan merasakan Ramadhan berikutnya ataukah tidak.




Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi
 

Sumber : Maribaraja.com

Cukup 15 Menit, setelah berbuka

Nasehat dari Ustadzuna Zainuddin Abu Qushai Mudir Ma`had Jamilurrahman Bantul Jogjakarta..


Cukup 15 Menit 


Senin 3 Ramadhan 1443 H Alhamdulillah kami bisa buka bareng dengan Ustadz Zainuddin Abu Qushoiy (Mudir Ma'had Jamilurrahman) di Masjid Al Muhsinin. Kebetulan beliau mengisi acara pengajian jelang berbuka.


Baca Juga : Trik Membawa anak kecil ke masjid untuk Sholat berjamaah 

 

Pada saat berbuka, beliau memakan 3 buah ruthob dan teh manis. Setelah beliau selesai makan ruthob dan minum teh manis, salah satu dari kami mengajak makan besar (nasi duz) yang telah disediakan panitia, namun beliau sementara mencukupkan diri berbuka terlebih dahulu dengan ruthob dan teh manis.

Lalu beliau berkata kepada kami, sudah menjadi kebiasaan pada saat awal berbuka beliau hanya makan kurma dan minum air (baik air putih atau air hangat yang manis) dan baru makan besar setelah shalat Maghrib. Kemudian beliau menjelaskan :

 

Baca Juga : Belanja Peralatan Ibu, Anak dan Bayi di Mothercare



1. Pada saat berbuka, lambung kita masih belum siap menerima makanan yang berat dan banyak.
2. Dalam waktu kurang lebih 15 menit, kurma sudah bisa menghasilkan energi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas, salah satu aktivitas tersebut adalah mencerna makanan.
3. Antara waktu berbuka sampai dengan selesai shalat Maghrib kurang lebih membutuhkan waktu 15 sampai 30 menit (tergantung kondisi). Sehingga setelah shalat Maghrib kita sudah mendapatkan energi dari kurma yang kita makan pada saat berbuka dan lambung sudah siap menerima makanan berat.
Wallahu a'lam.



#semarak_ramadhan_di_Kampoeng_Santri

Trik Membawa anak kecil ke masjid untuk Sholat berjamaah

Assalamu'alaikum sahabat Book My Madrasah, Trik membawa anak kecil ke masjid agar tidak gaduh mengganggu jamaah shalat.

Di bawah ini adalah tips atau nasehat dari ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, yang mungkin dapat kita terapkan dikala kita orang tua ingin mengajarkan anak-anak kita sholat berjama'ah di Masjid.

Baca Juga : Lowongan Kerja 


 

  1. Sebelum berangkat jelaskan apa itu masjid dan bagaimana seharusnya anak bersikap di masjid.
  2. Jangan biarkan anak anda membawa sertai atau mengantongi mainan  ketika hendak berangkat ke masjid.
  3. Persiapkan pakaian anak agar mengenakan pakaian untuk shalat bukan pakaian untuk bermain.
  4. Sesampai di masjid, gandeng tangan anak agar ikut masuk masjid.
  5. Dudukkan anak di sebelah anda.
  6. Jangan biarkan anak anda duduk atau berdiri shalat dinsebelah sesama anak kecil.
  7. Bila anak mencuri kesempatan dan keluar dari masid atau membuat gaduh di masjid, segera cari anak anda dan gamdeng kembai tangannya untuk masuk ke masjid dan diduk di sebelah anda.
  8. Jangan lupa untuk kembali mengingatkan adab di masjid yang seharusnya dilakukan anak anda.
  9. Ketika shalat didirikan, kondisikan agar anak ikut mendirikan shalat di sebelah anda, sehingga anda bisa mengawasi dan membimbingnya bila di tengah shalag anak anda membuat kegaduhan atau bermain.
  10. Selesai shalat lakukan evaluasi terhadap sikap anak selama di masjid, dan sampaikan hasil evaluasi anda kepada anak.
  11. Jangan lupa mengapresiasi anak bila dia bersikap baik.
  12. Kadang kala beri hadiah atau hukuman yang mendidik atas prestasi dan kegagalannya.
  13. Selalu panjatkan doa untuk anak anda agar menjadi anak yang rajin mendirikan shalat.  Nabi Ibrahim alaihissalam saja rajin berdoa untuk anaknya agar menjadi penegak shalat


رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء

 

"Wahai Rab-ku jadikanlah aku penegak shalat dan juga anak keturunanku, wahai Rab kami kabulkanlah doa kami"( Q.S: Ibrahim 40 )

14. Sering sering kisahkan cerita para ulama' yang rajin shalat dan juga keutamaan shalat berjamaah di masjid, termasuk keutamaan masjid.
15. Sampaikan kepada anak anda apa impian anda tentang masa depan anak anda dengan ibadah shalat.

16. Lakukan semua kiat di atas dengan ikhlas sebagai satu kewajiban mendidik anak.
17. Tunaikan semua kiat di atas dengan lemah lembut.
18. Oh iya, jangan lupa bantu menyusun kegiatan anak agar sesuai dengan jadwal shalat fardhu.

19. Dan penting sekali anda mengoreksi diri, sudahkah anda memberi keteladanan kepada anak anda?

Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.facebook.com/100044302190144/posts/541113954042006/

 

 

 

Back To Top